skala prioritas

Gue sadar bahwa dari dulu gue bukan tipikal orang yang doyan hang out. Nongkrong di coffee shop aja doyannya sendirian sambil buka gadget *lalu lagunya Langdon Pigg mengalun*
Cuma ada saatnya gue merasa perlu untuk keluar dari goa (hantu) gue dan hang out. Sounds selfish? Maybe I am. No. I am.

Gue lebih suka gelesotan di kasur, cuddling sama Bravo, dan sekarang cuddling bertiga kalau gue lagi ke rumah Mbee. Jalan ke mol pun milih yang ada Ace Hardware biar sekalian beli makan buat Bravo. Gue jaraaaaaaaang banget keluar sama my so-called-friends.

Apa ya, gue merasa sekarang prioritas gue lagi gak ke arah haha hihi. Satu, waktunya. Gue ngerasa waktu gue buat si bocah itu gak banyak, dengan gak tinggal serumah. Kalau gue hang out haha hihi, kapan gue punya waktu buat dia dong? Tesis aja bikin gue bisa seminggu gak ke rumah Mbee :(

Dua, hang out haha hihi, orang2 selalu berdalih menjalin silaturahmi. In the end, pasti, gue yakin, akan jadi ajang ngomongin orang. Gosip. Jadi menurut gue, acara bukber itu banyakan gak baiknya. Udahlah buang2 duit kudu ke resto/cafe, gosipin orang pula, kagak sholat maghrib karena alesan musholla mol penuh, dsb dsb dsb and the list went on.

Tiga, hang out yang melibatkan banyak orang kadang memunculkan ignorance dari pihak pengundang. Bahwa ada orang2 yang gak suka satu sama lain tau2 kepaksa ketemu di bukber. It isn’t about forgiving karena bulan puasa, tapi kadang udah masalah prinsip.

Anyway, kemarin gue hang out sama seorang teman dan dosen gue, bareng Mbee juga. Gue lg coming moon, Mbee pilek parah, dan dua lg emang gak puasa. Jadilah makan sore di Margo lalu cuss ke Kemang Village, nonton Step Up karena si dosen punya voucher XXI. Impulsif? Iya. Padahal malam sebelumnya kami bertiga habis partey2 di ulang tahun teman. Mimik2 cantik :)

Sekarang, gue jadi menyadari, prioritas gue untuk hang out adalah dengan orang2 yang open mind. Jadi ketika hang out pembicaraannya bisa lebih bermakna dan gue juga dapet pengetahuan baru. Gak cuma haha hihi gak jelas apalagi ngegosipin orang. Ya kami juga ngegosipin orang sih, tapi lebih banyak nyela2 diri sendiri dan ngebahas isu2 lucu. Hehehe..

Anyway, udah mau Lebaran. Jangan suka ngambek atuh kalau ada yang beda sama kita. Namanya juga manusia, pasti ada yang beda. Kalau sama jadi robot dong :D

Posted from WordPress for Android

dogs are not your property

Sebenarnya gue agak miris dengan hal2 yang gue lihat beberapa waktu belakangan ini. Orang berlomba2 punya anjing buat ikut tren semata, terutama tren adopsi. Seolah2 adopsi anjing adalah hal paling keren dan semua orang gak boleh ketinggalan. Well I am sorry but you’re totally wrong.

Gue banyak lihat orang2 yang adopsi anjing karena anjing itu masih puppy, terlihat lucu dan menggemaskan, sehingga bisa dipamerkan si media sosial terutama Instagram. Maksudnya mau jadi social climber, yang kalau tab notifikasinya sepi maka dia akan mention2 orang, yang mana dikombinasikan dengan budaya Indonesia yang nggak enakan, akan membuat orang itu minimal nge-like foto tersebut karena sudah di-summon.

Gue gak mau munafik, mungkin gue bikinin akun Instagram khusus buat Bravo ya bagian dari social climber, hanya memang gue gak serendah itu untuk mention orang2 untuk lihat foto yang gue post. Sebenarnya sih gue merasa sayang aja kegantengan anak gue tersia2 menuhin memori gadget, akan lebih baik kalau diupload dan menghibur orang lain, ya toh?

Tapi kembali lagi, punya anjing itu, sebagaimana punya anak, adalah komitmen seumur hidup. Jangan semangat di awal pas masih puppy nanti pas dewasa dan tua merepotkan lalu mau menyerah.

Ada seseorang yang semangat adopsi anjing sampai 2 ekor, yang 1 mati karena sakit, yang 1 lagi mau dibuang karena dianggap menyusahkan. Gigit anak pemilik kontrakan, makannya banyak, gak ada yang urus, si empunya terkena terminal illness, banyak alasannya.
Yang 1 lagi ada lah adopsi anjing, lalu dikasih biskuit cokelat dan kismis, yang mana bisa meracuni anjing. Belum lagi dikasih parfum dan bedak bayi. Lalu tiru2 pose orang lain di media sosial dan tidak menghargai hak cipta.

I personally think no one should let these people alive in the first place. *jedut2in kepala ke meja*

Komitmen memelihara anjing itu gak sekadar mampu memberi makan, tapi juga melatih, merawat ketika sakit, dan gak menyerah ketika si anjing gak bisa lagi lincah karena usia. Kepikiran gak kalau kita tua, anak kita ngebuang kita di jalan the way we threw away our old dogs just because they’re no longer entertaining? Oh well, bukan kita sih, elo aja, gue mah enggak.. :p

Adopsilah karena sayang, bukan untuk dipajang.
Seleb Instagram adalah sesuatu yang semu, buat apa berkoar2 komitmen untuk sesuatu yang semu?
Anjing bukan properti untuk jadi terkenal, dapat sampel, dapat barang gratisan, atau masuk ke lingkar pergaulan tertentu.
Jangan pura2 cinta kalau hanya di depan kamera.
Dogs are not property, they are love machines.

Counting down to September 7th, the first day we met. It’s almost two years, yet not a single feeling has changed.
Black nose has turned pink-ish, muscles are weaker, sights are worsening.
But my promise to stay with you till death do us part would never change.
I love you even more, Bravo SummerWave..

Posted from WordPress for Android

#AkhirnyaMilihJokowi

Never thought I’d write this kind of thing in my blog, honestly. No, this isn’t a campaign material, as always I just want to share what’s in my mind. Kindly read this with open mind, please? :)

Sejujurnya ketika partainya mencalonkan Jokowi sebagai capres, gue ilfil. Ih apa sih, berharap elektabilitas naik banget deh lo. Jokowi baru juga jadi gubernur, entar bla bla bla.. banyak lah pemikiran gue ketika itu.

Cuma seiring berjalannya waktu, gue mulai berubah pikiran. Gue ngeliat ini orang gak ngoyo untuk jadi presiden. Apa ya, yang gue liat itu dia berprinsip “kepilih syukur engga ya udah”. Gue liat ini orang ga napsu memperkaya diri dan memang rekam jejak kerjanya pun bagus menurut gue. Oh engga, gue engga mau mendewakan dia dan bilang dia sempurna. Jokowi is another human being yang ada kekurangannya, tapi menurut gue dia hebat.

Satu, dia orang yang sangat rendah hati. Pernah di tahun 2009an apa ya waktu masih jadi walikota dia diundang jurusan gue untuk ngasih kuliah sebagai intervensionis. Dia dateng dan dosen gue hampir mengira dia adalah ajudannya Jokowi, saking sederhananya. Gue diceritain, di kelas dia bilang mau belajar dari senior2 gue yang mengundang dia. Men, ngana diundang buat ngajarin orang, terus ngana bilang mau belajar? 1 poin plus buat gue: pemimpin gak segan belajar dari rakyatnya.

Dua, gue gak ngerti kharisma apa yang dia punya, tapi dia bisa menggerakkan mayoritas golput-ers untuk mau memilih. Menurut gue ini hebat. Dia gak banyak ngomong, cuma nunjukin hasil kerjanya selama ini dan mengajak yuk kita nasionalkan program yang sudah berjalan ini. Simpel, gak muluk2 kebanyakan visi misi. Kebetulan gue ini orangnya gak suka yang ribet2 kalo bisa ada yang dipermudah. Dan gue selalu merinding baca tulisan orang2 di socmed dan para relawan2 yang fight for JKW-JK. Men, kalian ga dibayar men, you guys aren’t even rich people, yet you spent your money for someone who might not even know who you are! INI MAKHLUK MACAM APA YANG BISA MENGGERAKKAN HATI ORANG2 BERBAGAI KALANGAN INI?? *maap kepslok rusak*

Tiga, Jokowi gak pernah pakai topeng. Gue gak pernah ngeliat agenda blusukannya sebagai salah satu cara untuk pencitraan. Menurut gue dia hebat, punya kemampuan untuk mendengar dan memberi atensi terhadap curhat masyarakat. Gue aja kalo lagi senep ga sanggup dengerin curhat orang, lha ini pemimpin daerah yang masalahnya berjuta kali lipat dari gue masih sanggup turun ke lapangan untuk dengerin orang curhat..

Empat, Jokowi-JK didukung oleh orang2 hebat yang selama ini pun gue kagumi pemikirannya. Dan di kubu ini ga ada maling2 ternak, maling ibadah, segala macem. Honestly gue bahkan ga ngeliat mereka didukung partai, tapi didukung masyarakat.

Lima, gue selalu percaya insting anjing sama orang baru. Here, Bravo sering nonton tv di rumah, dan mau dia lagi tidur, makan, atau main, dia selalu diam ketika Jokowi muncul di tv, baru lanjut lagi dengan kesibukannya. Sometimes he stared at him on tv with big smiles, kadang ya menatapnya kayak yang adoring Jokowi gitu. Meanwhile, kalau yang satunya muncul, dia bakal bunyi BOOOOO~
And I do trust his instinct :)

Well actually, kalau mau dijabarin mah bisa panjang banget ini tulisan. Tapi daripada gue dilaporin sama kubu sensi karena dianggap kampanye pas masa tenang, mari kita tutup tulisan ini dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim dan sampai jumpa di TPS pada tanggal 9 Juli. I’ll be there to vote, because that’s the least I could do for my country.
Aku sayang Indonesia, kalau kamu?

#salam2jari

image

Posted from WordPress for Android

talking about separation

Kemarin, 23 Juni 2014, tepat 4 bulan Flossy meninggalkan dunia ini. Kalau ditanya masih sedih apa enggak, I can’t answer that. Kadang, gue merasa bahwa sekarang dia sudah lebih bahagia di alam sana. Tapi kadang ketika gue gak bisa tidur tengah malam atau bangun pagi2 dan laptop masih nyala, gue buka folder foto dia dan air matanya masih ngalir. I miss him yet a the same time I’m trying to understand that he’s happy.

Sebenarnya, patah hati karena diputusin pacar dan ditinggal sama ‘anak’ ya gak jauh beda. Tapi gue pribadi sih mending diputusin pacar, soalnya at least dia masih hidup, masih ada somewhere di dunia ini dan bahkan mungkin masih ada di 1 kota yang sama. Ditinggal mati? I have to say that the pain is unbearable. Terus, diputusin itu kita masih bisa stalking via internet, masih bisa tahu dia lagi sibuk apa, even kalo si mantan punya pacar baru (which surely would lead into another series of heartbroken). Lah gue mau stalking bagaimana? Should I knock on every door in this world asking if that’s the right door to rainbow bridge? Kan enggak mungkin. Hahaha..

*sigh*

Perpisahan memang gak pernah menjadi topik yang enak untuk dibicarakan. Bahkan perpisahan sementara macam LDR pun gak enak dibahas. Sedih, apalagi kalau terusnya kita ketemu sama orang yang kondisinya lebih baik misalnya gak perlu LDR. Ugh, bawaannya mah pengen nangis meraung2.

Sedihnya, perpisahan itu sesuatu yang gak bisa dihindari. Takdir, terutama ajal, kita gak pernah tau kapan datangnya. And I believe that people who can get over their sadness when they grieve adalah orang2 yang hebat. No, gue belum sampai ke tahap itu. Belum bisa 100% menerima. Masih ada rasa, harusnya gue bisa begini supaya Flossy bisa bertahan, harusnya waktu itu gue ajak Flossy ke sini, dsb. Nggak, nggak guna begitu2 mah. What’s done is done and you can’t undo God’s will.

Gimanapun juga, gue percaya bahwa gue lagi diajari, lagi ditempa untuk enggak lagi takut sama yang namanya perpisahan. Because separation will always be around us. Satu yang gue pelajari dari singkatnya waktu Flossy di dunia adalah jangan pernah take someone in your life for granted. Fokus kerja, fokus kuliah, itu perlu, tapi di akhir hari ketika kita pulang ke rumah, bukan kerjaan atau tugas yang akan bikin kita ketawa. I didn’t take my chance to give him happiness, and maybe that’s my biggest regret.

Gue percaya, di setiap perpisahan pasti ada pelajaran yang bisa dipetik, if only we want to sit and reflect on what we’ve done. Jadi buat kamu2 yang lagi sedih ditinggal orang yang kamu sayang, dimarahin ortu, dimusuhin sahabat, diselingkuhin pacar, digigit anjing kamu, dicakar kucing kamu, kindly take a moment to understand. Mungkin bukan ortu kamu yang resek, mungkin bukan pacar kamu yang brengsek, mungkin bukan sahabat kamu yang nyebelin, mungkin bukan anjing atau kucingnya yang jahat. Mungkin kamu yang belum bisa mengucap syukur atas keberadaan mereka.

Time is ticking, close this blog of mine after you do what I’m about to tell you. Call your loved ones or come to them and hug them hard. Tell them how much you love them. Tell them my tale, how I have to feel this burden because I didn’t take my time to tell my kid how much I love him. Tell them how much you feel blessed because of their presence near you. Tell them how your life is happier with their presence. Thank them for always being there and tell them you’re sorry if you have taken their presence for granted. Because you only live once, so do them. And maybe they are just a part of your world, but for them you are their world. :)

Have a good day with your loved ones..

P.S. Dear Flossy, I miss you. Aku merindu ditatap sendu..

M.Si

This time, yang nungguin cuma bapak Mbee, memang gue pun maunya begitu. Hahaha..
Dian dateng pas gue baru selesai, and Icha as always just a phone call away. The rest, as always via whatsapp yaaa hail technology!! :p

Anyway, begitu aja rasanya sidang tesis. I thought it’s gonna be worse and scarier and everything. Mostly karena pilihan penguji gue yang katanya horor. Bah, gue mending jadi perempuan di sarang penyamun daripada diuji sama yang ahli tapi bawel.

Revisinya segudang, dan sungguh aku penasaran berapa nilainya. Kata si babe dia minta nilai bagus, tapi aku ga tau soalnya si babe tipe orang yang rada irit nilai tapi ga pernah irit ngasih ilmu. And honestly aku mending dikasih ilmu banyak lah apalagi dr orang yg udah pengalaman kagak beliau.

Habis sidang rasanya sedih, sejujurnya. There goes my immunity and excuse kalo ditanya kapan nikah. Sekarang garuk2 kepala kalo ditanya kapan nikah, udah abis alesan gue. Jadi mari kerja keras nabung untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Eheu. Wouldn’t it be nice starting a new life just the three of us? Can’t wait to wake up and sleep next to Bravo every day. *lalu dipegat Mbee*

2 tahun gak berasa. It feels like yesterday gue ujian masuk S2, sekarang udah lulus aja. Dan aku pun galau karir lagi. Pengen kerja tapi gak tau mau kerja di bidang apa. Yang jelas sih sekarang nyari kerja tentunya yang waktunya bisa fleksibel supaya masih punya waktu sama abang. Tetep, aku ga mau kerja lembur2 dan Mbee juga ga ngasih gue buat lembur2an.

Oh well, sebelum nyari kerja mari lah kita mengerjakan revisi demi masa depan yang lebih cerah. And welcome my new name, sure you won’t appear in my wedding invitation karena aku ga suka naroh2 gelar di tempat selain CV. Hihi..

Till then, people.. :)

Posted from WordPress for Android

the killing deadline and… LOVE

Halo! *ngos2an* Deadline tesis bentar lagi nih, walaupun tanggalnya nggak jelas juga karena ada beberapa versi, mulai dari versi fakultas yang resmi, ketua jurusan yang lumayan resmi, jurusan lain yang agak resmi, sama versi harapan diri sendiri dan kelompok. Muahahahahaha.. Ya maap ya, namanya juga usaha, siapa tau harapan jadi kenyataan. Mari berdoa! :p

Di tengah deadline yang menghantui ini, gue sempet menyaksikan peristiwa yang menurut gue agak menampar diri gue sebagai mahasiswi Psikologi, S2 pulak. Isunya apa lagi kalau bukan cinta2an.

Jadi tersebutlah sepasang teman gue, who have been dating since almost 2 years ago. Mereka udah tinggal bareng dan mengadopsi 2 anjing yang lucu2. Suatu hari mereka putus. Eh, nggak ding, suatu hari they had a very big fight, kebetulan besoknya itu salah satu dari mereka ada kerjaan di luar kota. Berangkatlah dia, tapi sekalian kabur. Dan nggak pulang2 lagi. Tanpa pernah ada kata putus.

Si yang ditinggalkan ini pokoknya living a miserable life karena nggak ada kejelasan, jadi masih berharap bahwa suatu hari the runaway lover akan kembali. Nggak salah sih, namanya juga digantungin, walaupun yang pergi ini ngerasanya ini adalah final decision and they are totally broken. Ya mana gue tau juga sih mana yang bener, kan gue tidak ada di sana ketika kejadian. Hihihi..

Couple of months later, a big thing happened. Eh, dari tadi gak dikasih nama samaran ya? Okelah, mari kita sebut yang pergi adalah Dudul dan yang ditinggalin adalah Dodol. Ketika hal itu terjadi, Dodol nelepon Dudul dan minta dia untuk dateng dan nemenin dia since the thing happened is related to both of them pre-breakup. Dudul gak mau karena ngerasa udah gak ada apa2 lagi di antara mereka. The drama begins, people..

Paragraf2 berikut akan berisi analisis gue yang sok kepsikologi2an ya. :D

Dodol, yang ngerasa the relationship hasn’t over yet, berusaha supaya Dudul balik lagi sama dia. Karena Dudulnya bahkan gak mau ditemuin, Dodol melakukan beberapa hal nekat yang menurut gue pribadi menjurus ke arah kriminal. Tapi gue gak bisa menyalahkan dia 100%, Dodol was blind from love, the source of happiness and pain in everybody’s life. Dudul sendiri awalnya mati2an gak mau ketemu lagi sama Dodol, apalagi temenan. Gue rasa, yang ada di pikiran Dudul adalah pokoknya sekarang gue udah bahagia sama yang baru.

Gue paham sih apa yang dirasain Dudul, maybe Dudul has suffered enough from the relationship. Kesalahan Dudul cuma 1, gak secara gamblang menyatakan putus, this relationship is done, over, fin, tamat, khatam. Ini bikin Dodol jadi ngerasa digantungin dan menyimpan harapan bahwa one day Dudul will come back. Gak sehat untuk mereka berdua. Meskipun katakanlah penyebab putusnya mereka adalah Dodol, gak bisa juga Dudul kabur gitu aja alias flight kalau di psikologi, ceunah.

Sedih liatnya, tapi gue dan Mbee berusaha memediasi mereka berdua (ceritanya sih memanfaatkan ilmu yang dipelajari pas kuliah biar gak sia2 amat bayar SPP sekian semester. Hihi). Awalnya biasa lah yang keluar pasti emosi2 dulu. But after long hours of talking and meeting each other, gue bisa bilang bahwa sekarang masalahnya udah setengah terselesaikan. Dudul is doing quite fine, dan Dodol pelan2 memulai hidup yang baru tanpa Dudul. Happy ending? Not yet, but this is a new beginning for both of them.

Mbee sendiri bilang sama Dodol bahwa don’t make somebody the center of your happiness, because when s/he’s gone, there goes your happiness. Gue rasa dia rada2 curhat sih pas nasehatin Dodol. Hahahaha.. But Dodol got the point, dan setelah Dudul mulai ngebuka komunikasi dengan Dodol, both of them sounds more civilized now. I can see the tone of happiness from Dodol’s words ketika texting sama gue. Dudul pun lebih lega meskipun masih ada unfinished issues. Tapi Dudul belajar juga untuk overcome the fear and speak the unspoken words. They both learned something through the broken relationship. Mostly, they learned that LOVE, one they thought was a simple thing, could be something’s killing.

Jadi, para pembaca yang budiman dan budiwati, janganlah kau mencintai seseorang atau sesuatu terlalu dalam. Nanti kalau nggak ada bisa setres lho.. :(

Note to self: jangan cinta2 amat sama tesis, nanti setres. Hihihihi