talking about separation

Kemarin, 23 Juni 2014, tepat 4 bulan Flossy meninggalkan dunia ini. Kalau ditanya masih sedih apa enggak, I can’t answer that. Kadang, gue merasa bahwa sekarang dia sudah lebih bahagia di alam sana. Tapi kadang ketika gue gak bisa tidur tengah malam atau bangun pagi2 dan laptop masih nyala, gue buka folder foto dia dan air matanya masih ngalir. I miss him yet a the same time I’m trying to understand that he’s happy.

Sebenarnya, patah hati karena diputusin pacar dan ditinggal sama ‘anak’ ya gak jauh beda. Tapi gue pribadi sih mending diputusin pacar, soalnya at least dia masih hidup, masih ada somewhere di dunia ini dan bahkan mungkin masih ada di 1 kota yang sama. Ditinggal mati? I have to say that the pain is unbearable. Terus, diputusin itu kita masih bisa stalking via internet, masih bisa tahu dia lagi sibuk apa, even kalo si mantan punya pacar baru (which surely would lead into another series of heartbroken). Lah gue mau stalking bagaimana? Should I knock on every door in this world asking if that’s the right door to rainbow bridge? Kan enggak mungkin. Hahaha..

*sigh*

Perpisahan memang gak pernah menjadi topik yang enak untuk dibicarakan. Bahkan perpisahan sementara macam LDR pun gak enak dibahas. Sedih, apalagi kalau terusnya kita ketemu sama orang yang kondisinya lebih baik misalnya gak perlu LDR. Ugh, bawaannya mah pengen nangis meraung2.

Sedihnya, perpisahan itu sesuatu yang gak bisa dihindari. Takdir, terutama ajal, kita gak pernah tau kapan datangnya. And I believe that people who can get over their sadness when they grieve adalah orang2 yang hebat. No, gue belum sampai ke tahap itu. Belum bisa 100% menerima. Masih ada rasa, harusnya gue bisa begini supaya Flossy bisa bertahan, harusnya waktu itu gue ajak Flossy ke sini, dsb. Nggak, nggak guna begitu2 mah. What’s done is done and you can’t undo God’s will.

Gimanapun juga, gue percaya bahwa gue lagi diajari, lagi ditempa untuk enggak lagi takut sama yang namanya perpisahan. Because separation will always be around us. Satu yang gue pelajari dari singkatnya waktu Flossy di dunia adalah jangan pernah take someone in your life for granted. Fokus kerja, fokus kuliah, itu perlu, tapi di akhir hari ketika kita pulang ke rumah, bukan kerjaan atau tugas yang akan bikin kita ketawa. I didn’t take my chance to give him happiness, and maybe that’s my biggest regret.

Gue percaya, di setiap perpisahan pasti ada pelajaran yang bisa dipetik, if only we want to sit and reflect on what we’ve done. Jadi buat kamu2 yang lagi sedih ditinggal orang yang kamu sayang, dimarahin ortu, dimusuhin sahabat, diselingkuhin pacar, digigit anjing kamu, dicakar kucing kamu, kindly take a moment to understand. Mungkin bukan ortu kamu yang resek, mungkin bukan pacar kamu yang brengsek, mungkin bukan sahabat kamu yang nyebelin, mungkin bukan anjing atau kucingnya yang jahat. Mungkin kamu yang belum bisa mengucap syukur atas keberadaan mereka.

Time is ticking, close this blog of mine after you do what I’m about to tell you. Call your loved ones or come to them and hug them hard. Tell them how much you love them. Tell them my tale, how I have to feel this burden because I didn’t take my time to tell my kid how much I love him. Tell them how much you feel blessed because of their presence near you. Tell them how your life is happier with their presence. Thank them for always being there and tell them you’re sorry if you have taken their presence for granted. Because you only live once, so do them. And maybe they are just a part of your world, but for them you are their world. 🙂

Have a good day with your loved ones..

P.S. Dear Flossy, I miss you. Aku merindu ditatap sendu..

assyelaaaamat malaaam~

Well, malam ini ceritanya gue berdedikasi untuk menulis yang agak panjangan dan agak meaningful di blog ini. Tapi jangan marah yah kalau jadinya rambling gak kepuguhan. Mhihihihihi..

2013 gak berasa tau2 udah lewat aja, dan gue banyak belajar, dan in a hard way. Gue akan coba refleksikan satu2 ya..

In education, gue dapet nilai C+ pertama di S2. Amit2 banget dan cukup bikin trauma plus mental breakdown selama beberapa hari. Temen2 kuliah gue semuanya superior, tanpa gue dapet C+ pun mereka sudah sangat mengintimidasi gue. Tapi untungnya gue bisa recover dari kenyataan pahit itu dan ya udah lah ya, life must go on. Gue harus fokus sama tesis yang mana harus banget kelar semester ini. Topik udah dapet, pembimbing udah dapet. Tinggal dikerjain aja.

In relationship, bro gak berasa lho udah 2 tahun pacaran sama Mbee. Ih sungguh bulan2 awal tuh rasanya waktu kayak merayap, tiba2 sekarang udah 2 tahun aja. Udah jarang ditanya kapan nikah, alhamdulillah. Bukan nggak mau nikah ya, MAU BANGET, GILA! Tapi sayangnya fokus hidup belum ke situ. Gue mau fokus selesaiin kuliah dulu dan kerja lagi. We don’t eat love and we do need to earn money in order to survive. Lol.

In ‘motherhood’, alhamdulillah nambah anak satu lagi. Ngerasain juga yang namanya senewen anak sakit. Ya gimana ya, selama ini Bravo gak pernah sakit yang mengkhawatirkan. Kan aku terlena :”)

In work life, alhamdulillah dapet job luar biasa keliling Indonesia yang kagak gue tulis2 postingannya itu. Ngerasain snorkeling di Bunaken untuk pertama kalinya karena job ini. Ngerasain leyeh2 liat sunset di pantai Natsepa, mungkin sunset paling indah yang gue liat seumur hidup gue. Ngerasain jadi orang kaya walaupun sesaat karena abis itu gaji ludes buat bayar kuliah. Mwahahaha tapi sungguh, bisa bayar kuliah S2 sendiri langsung cash jreng itu bangga. Bawa2 duit 13 juta ke teller BNI yang didapet dari keringet sendiri naik turun pesawat pindah2 kota selama 1 bulan setengah itu rasanya terharu. I am no more a kid. :’)

In personal life, emosi sungguh naik turun. Dan somehow punya anak2 kaki 4 sangat membantu untuk regulasi emosi. They are not just pets, they are my buddies. But I managed to got out of my shell dengan jadi volunteer di Animal Defenders, divisi edukasi. I am quite proud of what myself has achieved for the past year. I hope 2014 will be less challenging and more laidback for me. I need to stop sprinting and jog slowly instead. To embrace the beauty of my surroundings. To laugh a lot more, to chill out more, to plan more, and to contemplate more.

Thank you, 2013. I have learned so much. Happy new year. 🙂

psychology made easy: talking about group

Gara2 kemaren ada tugas presentasi tentang “Controversy, Creativity, and Valuing Diversity”, gue jadi gatel buat nulis yang rada serius di blog, khususnya sih tentang kontroversi dan perbedaan. Mungkin perlu ditambahin tag “psychology made easy” kali ya di blog ini. Hehe..

Emang udah gak sibuk sama tugas chie?

Masih sih walaupun udah gak segila kemaren, tapi serius deh berhubung blogging itu hobi dan semacam sumber keriaan jadi mau gimana lagi dong? Cung deh yang blogger pasti  ngerti ada saat2 di mana pas lagi sibuk buaaanget justru hasrat blogging malah meningkat. Minimal blogwalking deeeh. Hihihihi.. Lalu pembicaraan ini melenceng kemana2.. :p

So, what did I learn from my presentation topics?

Sebelumnya perlu gue luruskan bahwa kontroversi itu gak persis sama kayak bahasanya media massa yang kesannya negatif banget. Kontroversi di sini mengacu ke konflik yang terjadi dalam kelompok karena ada perbedaan pendapat. Nah, si kontroversi ternyata punya peran penting lho cyin, salah satunya dalam pengambilan keputusan. Coba bayangin kalo satu kelompok semua omongannya sama, gak ada yang beda. Otomatis si kelompok itu sudut pandangnya ya itu2 aja. Sementara buat menyelesaikan masalah, perlu banget adanya berbagai sudut pandang supaya pemecahannya bisa kreatif.

Ya memang sih, agak susah ya untuk memendam dongkol sama orang2 yang beda sama kita. Apalagi kalo kelompoknya tuh terdiri dari orang2 yang takut banget buat stand out differently dan jadinya menghindari adanya kontroversi alias main aman. Belum lagi kalo ternyata dalam kelompok itu ada norma yang ‘meminta’ anggotanya buat jangan ada dusta ribut2 di antara kita. Beuhh. Susah deh malihhh..

Padahal kontroversi itu punya dampak positif lho. Salah satunya jadi bikin produktivitas kelompok meningkat dan keputusan yang diambil juga kualitasnya baik. Ya iyalah jadi baik, wong hasil debat kusir dari berbagai sudut pandang. Selain itu, karena pake adegan kontroversi, kita ‘dipaksa’ buat bikin argumen se-oke  mungkin dan otomatis kemampuan reasoning alias penalaran jadi meningkat. Jumlah dan kualitas ide juga membaik kalo ada kontroversi dalam kelompok.

Itu kan dari aspek tugasnya, nah aspek anggota kelompoknya sendiri gimana? Ternyata eh ternyata, kontroversi kalo disikapi positif justru bisa meningkatkan dukungan sosial antar anggota kelompok! Ikatan emosional sama komitmen buat nyelesaiin tugas juga meningkat, soalnya kontroversi yang baik alias konstruktif bisa memfasilitasi muncul2nya hal2 itu. Belum lagi kalo terus2an terpapar sama perbedaan ketika nyelesaiin masalah, biasanya anggota kelompok malah akan jadi aware sama persamaan yang dimiliki. Hasilnya, ya kelompok lebih solid karena udah tau persamaan yang bikin mereka bersatu sebagai kelompok. :’)

Nah sekarang ngomongin perbedaan. Ini sih variabel yang wajib hukumnya fardhu ‘ain ada dalam kelompok. Ya gimana enggak, meskipun kelompok dibentuk karena kesamaan yang dipunyai, tetep aja ada perbedaan dari masing2 anggotanya. Gampangnya sih ukuran baju. Gak semua anggota kelompok pake baju ukuran S dan kalo cewek pake beha size 32B. Itu aja udah jadi hal yang bikin kelompok punya perbedaan. Masalahnya adalah gimana cara kelompok menghargai perbedaan yang ada itu? Dimusuhin? Oh cencu cidak, kan saya beri combantrin.. 😀

Dampak positif perbedaan sih sebelas dua belas sama dampaknya kontroversi jadi gak akan gue bahas lagi. Yang mau gue note justru dampak negatifnya. Kalo sebagai anggota kelompok kita gak bisa me-manage perbedaan, kita cenderung menolak info baru yang dikasih sama anggota kelompok lain. Padahal belum tentu infonya itu jelek sih, cuma karena beda aja jadinya belum apa2 udah ditolak. Belum lagi ada kecenderungan buat jadi egosentris yang akhirnya ya produktivitas kelompoknya turun. Dampak jelek lainnya? Bakal ada perpecahan yang berkisar antara bullying, prasangka, stereotipe, dsb yang jelek2. Hayo langsung evaluasi kelompoknya deh, sudahkah anda minum yakult hari ini menghargai perbedaan dalam kelompok? :p

Perbedaan itu mesti dikelola lho, karena kayak yang tadi gue bilang, gak bisa banget kita nemuin orang yang persis sama kayak kita. Even twins have their own differences. Emang sih, kelompok yang homogen itu lebih kohesif daripada kelompok yang heterogen. Tapi atuhlah jangan maksain semua orang harus sama kayak lo. Because life isn’t about forcing everyone and everything to meet your standard. Terus kalo orang udah jadi sama kayak lo, hidup lo bahagia? Gak juga sih menurut gue, soalnya kalo kelompok selalu sama dan jadi homogen, ujung2nya malah boring karena gak ada tantangannya.

Ambil contoh orang pacaran deh. Kalo sama sekali gak ada berantem2nya pasti lama2 bosen, soalnya ibarat grafik detak jantung, dia bakal flat terus. Lha grafik detak jantung aja kalo udah flat berarti mati, apalagi hubungan interpersonal antar orang atau lebih gede lagi, antar kelompok? 😆

Mengelola perbedaan ini gak cuma berlaku buat kericuhan dalam kelompok, tapi juga cara kita bersikap sama kelompok di luar kelompok kita. Sering banget tuh kita langsung nge-judge kelompok yang keliatan ‘beda’ sama kita. Wajar sih kalo kata teori, soalnya memang nature-nya manusia buat mempertahankan nilai2 yang dia anut. Tapi kalo udah sampe judging apalagi diskriminasi, wadoooow itu yang bahaya. Di Indo mungkin diskriminasi gak separah di luar negeri ya, yang bisa sampe ngeludahin or nolak buat ngomong sama orang yang beda ras/beda nilai sama dia. Tapi tetep ajaaaa nenek bilang itu berbahayyya heeeyyyy.. *nyanyi pake sisir bulet*

Emang susah2 gampang sih ya berinteraksi dalam kelompok dan antar kelompok. Butuh banyak trik2 dan dapetnya juga trial and error. Gak bisa juga plek2an nerapin apa yang dibilang sama textbook. Apa yang ditulis di textbook emang kondisi ideal, tapi kalo udah ketemu faktanya di lapangan mah bisa bubar kabeh itu teorinya. Apalagi kita tinggal di negara yang buanyyyak banget sukunya. Kalo dikit2 mempermasalahkan orang yang beda sama kita, bakal capek sendiri sih. Apalagi kalo sampe segitu niatnya stalking atau ngegosipin orang yang beda itu, padahal si orang yang dimaksud mungkin malah gak nyadar kalo jadi korban stalker. Mwahahahahah.. Kasian sekali nganaaa~

Well, segitu dulu kali ya sesi Psychology Made Easy-nya. Bukan bermaksud menggurui karena gue juga masih belajar untuk lebih memahami manusia. Mudah2an apa yang gue tulis bisa dimengerti dan mencerahkan semuanya. Maklumin ya kalo ada salah2 kata, newbie ini newbie.. *nyari pembenaran. ehehe..*

getting the chin waaaay too HIGH!

So I met this someone not so long time ago. We talked and talked about worklife, and she has quite a good position in her office. Since we both have the same educational background, we also talked about psychology, training, and recruitment. She mentioned that her office is going to held a training, and she is going to be one of the participants’ chaperone.

So I asked, why didn’t she joined the training as a participant? She said, while lifting up her chin,

Why should I? I understand every bit of the training materials! I don’t need to join the training as a participant! I am a training designer! I don’t need to join this training. It’s only for lame people in my office!!

*sigh*

Oh well, selanjutnya gue mo ngomel in Indo ajah.

Gue kaget luar biasa sih pas denger doski ngomong gitu. Satu, segitu sombongnya ngana sampe bisa ngomong begitu. Dua, gue langsung inget omongannya one of my ex boss mba Pepz ketika dialog tahun lalu. Doski bilang kurang lebih begini,

Meskipun elu ngerti basic ilmu yang disampein di training, elu gak boleh hesitant apalagi males2an ikut. Nikmatin aja surprise dari ilmu2 baru yang bisa elu dapetin di training itu. Jangan ninggiin diri hanya karena elu lulusan psikologi.. Belajar itu kan bisa dari siapa aja..

To be honest, omongan mba Pepz itu nancep banget di gue dan bisa dibilang itu turning point buat gue. Gue yang tadinya suka agak males2an ikut training jadi semangat sama yang namanya training, se-cere apapun training itu. Soalnya bener banget poin yang disampein doski ketika dialog, siapa yang tau sih insight apa yang bisa kita dapet lewat training itu sebasi apapun materinya?

*sigh lagi*

Gue sejujurnya kecewa sama si orang yang gue temui ini. Gue terlanjur kagum sama dia karena skill dia dalam mendesain training. Tapi terus begitu dia ngomong gitu, gue langsung ilfil seketika. Gak nyangka aja orang yang gue kagumi karena kompetensinya ternyata malah ngerendahin orang lain dengan gampangnya. Iya sih, mungkin emang orang2 di kantor dia segitu lame-nya, tapi gak perlu juga sih menurut gue dia ngomong begitu apalagi disombong2in ke orang luar kayak gue.

Oh well, another lesson learned sih buat gue. Mengingatkan gue untuk berusaha jadi orang yang humble dan gak sok pinter sama kemampuan gue 🙂

ikhlas :)

Ikhlas. A word that’s always easier to be said than done.

Semalem baca blog orang yang nge-link ke blog orang lain. I don’t want to tell what is the content, but sure it’s a very heartbreaking thing to read. Di satu sisi, I do understand how the writer feels, karena gue pernah ada di posisi yang mirip sama dia. Beda sudut pandang but I’ve experienced the same frustration, the same anger, and the same pain. As if the world’s turning upside down like a table flip 9gag meme in front of me. I was in elementary school back then, so it wasn’t a nice thing to feel.

Dan sekarang, di usia nyaris 24 tahun ini, bukannya mah tambah pinter buat ikhlas, kok ya berat amat buat bisa ikhlas. Again, it’s an easier-to-be-said-than-done thingy. Tapi harusnya gak jadi pembenaran juga kan ya.. 😀 *nyengir malu*

To be honest, I have maybe a thousand “why” questions I would like to ask my dear God above. Things happened in my life and things that are surrounding me. Hal2 yang bikin gue frustrasi, hal2 yang gue-gak-tau-apa-maunya-Tuhan-sih, dan hal2 yang I just desperately need the answer or the clue. Iya, di surat Ar-Rahman pun ditulis bolak-balik “Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kau dustakan?” Harusnya ini bisa jadi pedoman buat ikhlas. Tapi lagi2, I seem to find some reasons to deny it. Berbagai “tapi kan” dan sederetan argumen2 sampah lainnya. Intinya, mencari pembenaran terhadap sikap susah ikhlasnya gue.

Padahal kalau mau dilihat2, ya kurang apa sih hidup gue? I have a job, I’m pursuing my master degree, I have the most supporting family, I have an annoyingly ‘cute’ boyfriend, I have a sort-of-mine mixed golden retriever that does silly things to light up my day, I have AGENT, I have *insya Allah* the most loving and comforting future families. What can I ask for more?

Mungkin memang takdirnya manusia untuk gak pernah puas jadinya susah ikhlas menerima kondisi hidupnya. Dicoba dikit sama Tuhan terus mewek, terus mau mati aja *ngomong sama kaca*. Padahal katanya kan Tuhan itu ngasih cobaan buat orang2 yang Dia sayang. Harusnya seneng dong disayang sama Tuhan secara nyata dan eksplisit?

Tapi balik lageeeee susah bersikap nrimo dan inggih2 aja sama kehendak Tuhan. Gak bisa langsung sadar bahwa oh ini bukti kasih sayang-Nya, dll dsb dkk. Butuh banget ditampar buat akhirnya bisa nerima kondisi kita. Itupun gak jaminan abis itu langsung beriman khusyuk jadi makhluk baik2 mati masuk surga. Pasti akan melenceng2 lagi. Ditampar2 lagi. Tobat2 lagi. Belajar ikhlas lagi. Gitu aja rauwisuwis. *sigh*

Oh well, the thing is, gue berasa ditampar kanan-kiri semalem pas baca tulisan yang gue baca itu. Again, I have been reminded to stay calm and accept whatever it is happening into my life. And to stop being so ambitious and overly obsessive-compulsive over small things. Dan di 23 hari terakhir gue berusia 23 tahun, lagi2 gue diingatkan untuk menata hati, pikiran, dan hidup supaya usia gue yang sekarang ini gak gue lewatkan dengan sia2.

We do learned something in this life. I just happened to learn it the hard way. 🙂

*sigh* I won’t say nice things or preach about ‘ikhlas’, karena gue tau sesusah apa rasanya berusaha ikhlas dan lagian kan kondisi orang gak sama. I just hope that eventually, in the end, kalian bisa mengikhlaskan apa yang ada dalam hidup, apa yang pergi, apa yang hilang, dan apa yang akan datang.

Have a good day, friends.. 😉

lessons learned from that kiddo

It’s been more than a month gue sama Mbee main ibu2an bertiga sama Brapohh. Eh now I feel you loh ibu2 bekerja di luar sana. Gue kalo kuliah malem aja suka tiba2 kangen sampe bego gitu sama si bocah manja. Obatnya ya cuma ngeliatin foto2nya di HP gue. Ini gimana nanti kalo punya anak beneran hah? Mau jadi apa gue?? X_X

Sekarang kalo lagi di kampus, bawaannya pengen cepet2 pulang, mau main sama bocah. Punya duit lebih dikit, pengen segera meluncur ke Ace Hardware buat beli camilan baru. Kalo lagi miskin? Regal aje ye bos kecil! 😀

Target gue sama Mbee gak muluk2. Bravo behave nicely among people but he knows that he is being loved by us unconditionally. Usually, kami ngajarin Bravo sambil main dan ngemil. Selain memperkuat basic rules yang udah pernah dia tau, tentunya buat ngajarin hal2 baru dong yaw. Harap diingat, sebagaimana mak bapaknya ini, Brapohh itu amat sangat food oriented. Regal is the best choice buat ngelatih dia. Baunya gak terlalu strong tapi si bocah doyan. Dibawain meat jerky atau dentastix mah samiaji kibulnye! Adanya dia bakal lari2 menggila sambil kipit2in buntut ngejar2 siapapun yang lagi megang camilan. -_-”

So far, sekarang dia udah ngerti kode COME dan HAND! Keplok2 tebar2 confetti dong buat anak akuuuhhh! :3

Jadi kenapa gue amat sangat bangga sama progres si bocah? Soalnya dulu tuh doi salaman pilih2. Maunya sama Mbee aja. Itu juga kudu dipaksa dengan berbagai bahasa: SALAMAN, HAND, PAW, dsb. Sekarang? Setelah latihan intensif dan efek terpisah seminggu dari gue, dia sukarela nyodorin kaki depannya kalo kita bilang HAND dan nadahin tangan. Sama mbak Arie juga kemaren mau salaman. Seringkali nih ya, kalo disamperin dan kita berdiri di depan kandang, dia nyodorin kakinya tanpa disuruh. Oh I hope I won’t jinx this! >.<

Berikutnya, ngajarin dia buat udahan main dan masuk kandang cause it’s bed timeeee! *gue sama Mbee ngajak main seringnya malem* Awalnya susah. Kudu dipancing pake dentastix atau meat jerky. Maabkeun, anak angkat kami sangat cepat mengadopsi karakter simboke dan sibapake, yaitu food oriented.. 😀
Terakhir sih dipancing pake Regal udah mau. Abis itu masih dikasih meat jerky sih sepotong buat hiburan. Abis itu ritual mau bobo pun berlanjut. Badan nemplok kandang, mata lirik2 gue. Kalo gue menjauh, ruiiiibuuuutnya setengah mati. Telunjuk sakti pun beraksi. Hehe.. Gak pake ngebentak atau nada tinggi sih, gue cuma ngacungin telunjuk sambil ngomong,

No. Bravo good boy. Good boy no barking. Bravo no barking. Stop!

Ih baru sadar, pake silogisme! Ahahahaha.. Etapi dia paham lho. Alhamdulillah.. Keplok2 lagi buat bocah berbulukuuuu! :3

Apa ya, sejak main ibu2an begini, gue belajar banyak hal yang kayaknya sih temen2 gue yang udah pada jadi ibu tuh belajar langsung sama bayi manusia. Gue sama Mbee belajar lewat Brapohh. Belajar gimana rasanya love at the first sight dan belajar bahasanya dia. He rarely barks. Dia cuma bunyi kalo nyium bau meat jerky, atau kalo gue sama Mbee baru sebentar main sama dia terus jalan ngejauh. Gue, especially, belajar gimana nerjemahin ekspresi mukanya. Gimana cara dia nunjukkin rasa suka atau engga sama apa yang gue dan Mbee lakuin. Gimana cara dia bilang “iya”, kapan dia mau dipeluk, kapan lagi mau main2 sama bapake, this and that..

Buat gue yang menganggap bayi manusia itu another scary creature to handle, belajar memahami anjing could be a good start to learn this adulthood issue. Yea, anggep aja lagi latihan untuk gak jadi orang yang self-centered lah ya. Biasanya kan pulang tuh bawaannya mau tidur. Ini secapek apapun gue usahain mampir ke tempat bocah dan ngajak main. Satu, buat ngehibur diri sendiri karena seberat apapun hari gue, kalo ketemu Bravo, rasanya masalah jadi ringan banget. Dua, buat ngajarin dia bahwa he is loved by us. Tiga, belajar tegas. Gue tuh orangnya gak tegaan marahin orang lain. Semacam manusia submisif gitu deh. Tapi sama Brapohh, gue belajar buat tegas, berbekal telunjuk sakti dan muka kenceng. Padahal mah abis itu COME TO MOMMY!!!! UNYEL2 SINIH!! *gemes*

Eh terus apa kabar tuh yang punya Bravo? Teuing. Hahahahahaha.. Kurang paham juga gue. Kayaknya mah sebodo amat gituh anjingnya diajak main sama gue dan Mbee. 😀

Relationship gue sama Mbee sebenernya gak dipengaruhi secara signifikan pada LOS 0.05 sih, tapi berasa aja ada hal lain yang berperan di hubungan kami. Gue sama Mbee sekarang venue pacarannya gak lagi di mal. Kalaupun nge-mal, pasti nyari yang ada Ace Hardware-nya sambil diskusi depan rak makanan anjing, besok beli apa lagi buat si bocah. Sisanya? Ya pacarannya sambil main sama si bocah. Sehat karena keringetan, bahagia karena si hormon2 pemuncul kebahagiaan nyembur kemana2.

Still, gue sama Mbee pengen banget bisa adopt dia. Seandainya dikasih gitu kan.. Tapi yah, lagi2 dari hal ini gue belajar bahwa gak semua hal yang gue mau bisa gue dapetin. 🙂

Oh well, ngomongin lessons learned sebenernya ada banyak banget kalo mau ditelaah. Ada Brapohh sebagai pihak ketiga di hubungan gue sama Mbee juga udah merupakan pembelajaran tersendiri. I am beyond happy dan merasa lebih menikmati hidup. Gimana sih ya, knowing that a cute creature loves you unconditionally and wants you to love him back also unconditionally tuh bikin gue jadi ngerasa lebih berarti. Providing love for this four-legged kid costs nothing, but indeed, I get so much things in return. Semoga ke depannya ada makin banyak hal yang bisa gue pelajari dari Brapohh, and vice versa.

Baiklah, postingan ngelantur ini akan gue tutup lagi2 dengan foto si bocah yang mukanya kegirangan karena dicium sama perempuan (baca: gue).

*cubit pipi Brapohh*

fighting! :)

letting go of someone we love is hard. kuncinya memang cuma ikhlas. tapi saat si ikhlas itu sendiri sulit untuk dicapai, beuuhhh, upaya melepaskannya jadi semakin berat.

gue mengalami pasang surut emosi yang ampun2an freak-nya dalam 1,5 bulan belakangan. kalau ditanya apakah sekarang sudah bisa ikhlas melepaskan, dengan segala kerendahan hati gue akan menjawab belum. :’)

gue gak mau muna dengan sesumbar bahwa gue sudah ikhlas dan bla bla bla tapi di belakang orang2 gue masih meratap tiap malam dan nangis2. alhamdulillah gue gak kayak gitu. gue punya orang2 terdekat yang sangat men-support rasa kehilangan gue. mulai dari gue dipinjami buku, ditemenin, didengerin ocehannya, dipinjami hati, dipeluk, dan sebagainya. gue gak bisa menghitung jumlah pelukan yang gue terima saking banyaknya. gue juga gak tau gimana cara berterima kasih sama mereka. intinya karena jasa2 mereka, hati gue pelan2 berobat. gue mencoba jujur sama diri gue sendiri dan mereka. saat gue galau, ya gue bilang gue galau. saat gue terlalu kangen sampai gue nangis2 ga jelas ya gue bilang juga sama mereka. apa yang gue dapat? sejuta peluk dan pats on the back yang membuat gue merasa jaaaaauh lebih baik. terima kasih ya..

gue mencoba untuk melihat sisi positif dari rasa kehilangan ini. dan ada beberapa! yeah, gak banyak sih, tapi ada. soalnya gue sudah berhenti bermain matematika dalam cinta. satu tambah satu tidak selalu dua hasilnya kalau dihitung dengan matematika cinta. hehe.. mudah2an ke depannya bisa selalu optimis seperti ini.

at the end, sedih2 karena kehilangan adalah hal yang normal dalam situasi yang tidak normal. it’s okay to cry, to let every emotion out, to swim in every memory, and to drown ourselves in tears. gak apa2. take some days off and be honest. orang2 di sekitar kita biasanya akan berusaha mengerti. tapi setelah itu harus bisa bangkit lagi untuk fight. untuk mengejar apa yang sebenarnya menjadi target hidup kita. yakin aja, orang2 yang pergi itu adalah ‘utusan’ Tuhan untuk mengajarkan kita supaya bisa menjadi seorang FIGHTER. 😉

‘Cause it makes me that much stronger
Makes me work a little bit harder
It makes me that much wiser
So thanks for making me a fighter
Made me learn a little bit faster
Made my skin a little bit thicker
Makes me that much smarter
So thanks for making me a fighter

(Christina Aguilera ~ Fighter)

P.S. tulisan ini lebih untuk menasehati diri sendiri dan menyemangati seorang teman. kalau ada pihak2 yang kebetulan merasa hakJLEBB! baca tulisan gue, mohon maaf. hehe..

P.S. lagi. happy Monday! semoga hari Senin kalian menyenangkan ya.. 🙂