Kata Pengantar

I was actually gonna upload this one when I finished my undergraduate thesis back in 2011. But since there was Mbee’s (back then: carelessboy’s) name BUT he’s still dating that girl I was holding myself from getting people into thinking there’s something going on between us (padahal iya ada yang going on, nafsu makannya ahaha *krik*).

SOOOOOO, back in 2014, and he is already mine, ya boleh lah ya disebut2 ya di marih.. Of course dengan penyesuaian dengan tidak menyebut nama2 tertentu, cause I’m keeping this page personal. Veeery personal so I’m not gonna put some names due to my apt respect to these people 🙂

Warren Buffett once said, “The happiest people do not necessarily have the best things, they simply appreciate the things they have.” So, first thing first, Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, I am so grateful and blessed for another chance to learn about life through these past two years, dear Allah SWT. It was indeed a long journey with lots of obstacles, but there are always good people to help me reach the finish line. To the ones who stay here no matter what, there is no better way to express my gratitude for your presence but a huge thank you and a space in these pages.

  • First of all, my family, for supporting me to go back to school and for letting me choose my own path. And a very special thank you to my mother, because what am I without you, mam?
  • My thesis supervisor, Dr. XXX for the chance to learn the core of social intervention from the real master, and for choosing me among the others since the beginning. Hands down and sungkem for the knowledge you shared and the seemingly endless patience towards my learning process.
  • Ibu XXX. for helping me earnestly and ensuring this program was running well. Through these short meetings I have learned a lot about loving a job and I have never met a teacher so dedicated and full of passion for her job like you.
  • AGENT. We rarely see each other but thank you for the almost 5 years of craziness provided through technology that made the distance seems nothing.
  • My one and only Insos Ranger 2012: Teh Mola, Teh Miaw, Mba Peni, Mas Ferdy, and Abu Hudan. You guys and a pack of basreng pedes are my only reasons to wake up early on Saturday mornings!
  • Incredibly smart people from whom I learned about life and how to have positive attitudes toward diversity beyond the theories I put into this thesis: Arie Suciyana, Sagita Sun Servanda Sitanggang, Kenny Immanuel, Nadya Karinadewi, and Gunawan Wibisono.
  • Mariska Adeline Sukmajaya Lie, my brutal shots of truth, for the invisible but always there supports and for having some faith in me since day one even when I’m doubting my own self. Thank you for always being one phone call away from me, no matter how far distance is separating us.
  • Sony Setyanto Wibowo, my very own MacGyver, whose patience and love toward this silly girl is undoubtable. Thank you for bringing me up when I am down, and for bringing me down to earth when I am flying too high. Thank you for balancing my life and making it so much more enjoyable. I am so grateful to have you.
  • Last but never be the least, Bravo SummerWave, who can never speak human words but has given me so many insights about this life. Thank you for becoming my constant reminder to live this life to its absolute fullest, to smile and make sweet lemonade when life hits with eath-sized lemons, to stay positive, and most importantly, to be true to my heart. I love you my four-legged kiddo.

After all, this thesis serves as an achievement for me, though it is remarkably far from perfect. I personally hope that this small research I have done would bring benefits for those who are eager to learn more about this topic.

Jakarta, Juli 2014

As for my little guy, I put his name in a special page. 🙂

Untuk Frosty WinterFall,

Malaikat kecilku di rainbow bridge.

Your jolly happy soul is my spirit to finish this thesis.

I miss you, and I wish you were here.

the killing deadline and… LOVE

Halo! *ngos2an* Deadline tesis bentar lagi nih, walaupun tanggalnya nggak jelas juga karena ada beberapa versi, mulai dari versi fakultas yang resmi, ketua jurusan yang lumayan resmi, jurusan lain yang agak resmi, sama versi harapan diri sendiri dan kelompok. Muahahahahaha.. Ya maap ya, namanya juga usaha, siapa tau harapan jadi kenyataan. Mari berdoa! :p

Di tengah deadline yang menghantui ini, gue sempet menyaksikan peristiwa yang menurut gue agak menampar diri gue sebagai mahasiswi Psikologi, S2 pulak. Isunya apa lagi kalau bukan cinta2an.

Jadi tersebutlah sepasang teman gue, who have been dating since almost 2 years ago. Mereka udah tinggal bareng dan mengadopsi 2 anjing yang lucu2. Suatu hari mereka putus. Eh, nggak ding, suatu hari they had a very big fight, kebetulan besoknya itu salah satu dari mereka ada kerjaan di luar kota. Berangkatlah dia, tapi sekalian kabur. Dan nggak pulang2 lagi. Tanpa pernah ada kata putus.

Si yang ditinggalkan ini pokoknya living a miserable life karena nggak ada kejelasan, jadi masih berharap bahwa suatu hari the runaway lover akan kembali. Nggak salah sih, namanya juga digantungin, walaupun yang pergi ini ngerasanya ini adalah final decision and they are totally broken. Ya mana gue tau juga sih mana yang bener, kan gue tidak ada di sana ketika kejadian. Hihihi..

Couple of months later, a big thing happened. Eh, dari tadi gak dikasih nama samaran ya? Okelah, mari kita sebut yang pergi adalah Dudul dan yang ditinggalin adalah Dodol. Ketika hal itu terjadi, Dodol nelepon Dudul dan minta dia untuk dateng dan nemenin dia since the thing happened is related to both of them pre-breakup. Dudul gak mau karena ngerasa udah gak ada apa2 lagi di antara mereka. The drama begins, people..

Paragraf2 berikut akan berisi analisis gue yang sok kepsikologi2an ya. 😀

Dodol, yang ngerasa the relationship hasn’t over yet, berusaha supaya Dudul balik lagi sama dia. Karena Dudulnya bahkan gak mau ditemuin, Dodol melakukan beberapa hal nekat yang menurut gue pribadi menjurus ke arah kriminal. Tapi gue gak bisa menyalahkan dia 100%, Dodol was blind from love, the source of happiness and pain in everybody’s life. Dudul sendiri awalnya mati2an gak mau ketemu lagi sama Dodol, apalagi temenan. Gue rasa, yang ada di pikiran Dudul adalah pokoknya sekarang gue udah bahagia sama yang baru.

Gue paham sih apa yang dirasain Dudul, maybe Dudul has suffered enough from the relationship. Kesalahan Dudul cuma 1, gak secara gamblang menyatakan putus, this relationship is done, over, fin, tamat, khatam. Ini bikin Dodol jadi ngerasa digantungin dan menyimpan harapan bahwa one day Dudul will come back. Gak sehat untuk mereka berdua. Meskipun katakanlah penyebab putusnya mereka adalah Dodol, gak bisa juga Dudul kabur gitu aja alias flight kalau di psikologi, ceunah.

Sedih liatnya, tapi gue dan Mbee berusaha memediasi mereka berdua (ceritanya sih memanfaatkan ilmu yang dipelajari pas kuliah biar gak sia2 amat bayar SPP sekian semester. Hihi). Awalnya biasa lah yang keluar pasti emosi2 dulu. But after long hours of talking and meeting each other, gue bisa bilang bahwa sekarang masalahnya udah setengah terselesaikan. Dudul is doing quite fine, dan Dodol pelan2 memulai hidup yang baru tanpa Dudul. Happy ending? Not yet, but this is a new beginning for both of them.

Mbee sendiri bilang sama Dodol bahwa don’t make somebody the center of your happiness, because when s/he’s gone, there goes your happiness. Gue rasa dia rada2 curhat sih pas nasehatin Dodol. Hahahaha.. But Dodol got the point, dan setelah Dudul mulai ngebuka komunikasi dengan Dodol, both of them sounds more civilized now. I can see the tone of happiness from Dodol’s words ketika texting sama gue. Dudul pun lebih lega meskipun masih ada unfinished issues. Tapi Dudul belajar juga untuk overcome the fear and speak the unspoken words. They both learned something through the broken relationship. Mostly, they learned that LOVE, one they thought was a simple thing, could be something’s killing.

Jadi, para pembaca yang budiman dan budiwati, janganlah kau mencintai seseorang atau sesuatu terlalu dalam. Nanti kalau nggak ada bisa setres lho.. 😦

Note to self: jangan cinta2 amat sama tesis, nanti setres. Hihihihi

About Forgiving

Gue gak inget udah pernah nulis tentang ini atau belum di blog. Let’s just assume belum pernah yak. Ehehehehehehe..

I was intrigued by someone’s story a couple of weeks ago. Jadi dia ini sama mantannya udah pacaran kurang lebih 6 tahun, then pacarnya dekat sama perempuan lain dan voila, bubar jalan deh pacaran 6 tahun. Marah gak? Ya eyalah, putus tanpa orang ketiga aja nyesek, ini lagi.

Tapi gue sangat salut, orang ini dalam setahun bisa move on, dan yg terhebat, dia memaafkan mantannya. Dia bilang sama gue,

Being angry is tiring. Setahun gue marah, setiap hari bangun dengan perasaan pengen nyabik2 muka mantan gue dan cewek itu. Lalu apa? Gue lelah, nulis di media sosial kok negatif mulu, nyari quote kok yg nyindir perempuan itu mulu, gak konsen kerja, pokoknya hidup jadi berantakan.

Then I decided to stop and contemplate, deep into my soul. Gue sadar bahwa selama 6 tahun itu mantan gue gak happy sama gue. I was a mean girlfriend, gue memperlakukan dia kayak supir, gue memaksa dia memenuhi semua keinginan gue yg sifatnya materiil, gue nyuruh dia ngerjain kerjaan gue karena guenya males. Siapa yg gak muak sama sikap gue?

Ya wajar nggak wajar sih dia nemuin rasa nyaman dari perempuan itu. Gue aja yg selama setahun kemarin gak bisa ngaca, gak mau ngeliat bahwa gue punya andil dari dia cheating dengan perempuan itu. Jadi kalo sekarang ditanya, ya gue bisa bilang gue memaafkan mereka dengan segenap hati gue. No more calling her a slut and sending her hate messages. I apologize to her that I ever did that, while what she did was trying to make someone I love happy. Sama kan tujuannya? Ya dia bukan jodoh gue berarti, toh selama ini adiknya juga gak suka sama gue, gue aja yg terlalu naif buat mengenali tanda2 ketidaksukaan itu selama 6 tahun pacaran..

Well, so mature. Gue cukup shock, wow, gile, ada ya orang semudah ini memaafkan? Gue jadi malu karena masih suka memendam kesal2 gak penting. Dan bener sih kata dia, marah itu melelahkan. Honestly, I’m still keeping anger for someone, and it does tiring. Gue berusaha untuk memaafkan, step by step, not easy, I failed a lot, but I’m making progresses in every part, not only love stories.

To you, yes you, from this day on, I will try to forgive what you did to me. I will try to forgive what you called me. I will try to forgive what you said to others about me. Because I want to live in peace, not in hatred like you. I am sorry for whatever happened between us, it was not totally your mistake or mine, it was ours. I hope you find your peace in your heart soon, because, don’t you get tired feeling angry all the time?

I learned from Bravo that there is nothing wrong in forgiving someone. He always does it best, and I think I have to ask him how to do that and be positive all the time. I’m taking baby steps right now, slowly but sure, I hope there would be no more anger. Capek cyiiin~

Posted from WordPress for Android

tiga minggu jadi translator :D

Waktu itu mau cerita soal kerjaan gue kemaren tapi gak jadi gara2 terus deadline UTS berantakan semua. 😀

Jadi kira2 3 mingguan kemaren, gue bantuin peneliti dari Belanda namanya Inez, operan kerjaannya mamamil karena dia udah mau lahiran dan gak boleh pecicilan lagi. Selain karena mamamil yang minta, gue kebetulan juga pernah denger tentang topik penelitiannya Inez, pendidikan kecakapan dini yang mana di dalemnya ada pendidikan seks untuk anak usia dini. Monggo dicari di Google, namanya program Aku dan Kamu. 🙂

Nah, kerjaannya ngapain? As simple as jadi translator. Jadi gue wawancara anak2 TK gitu, ngajuin pertanyaan, terus abis anaknya jawab, gue langsung translate ke Inez yang bakal nyatet jawabannya di lembar observasi yang udah dia siapin. Pertanyaannya ada sekitar 50, tapi gak bakal berasa karena kayak kata Icha, sekali nanya gue bisa ngebabat 4-5 pertanyaan sekaligus. Hahaha..

Tadinya, gue sempet agak ragu buat nerima tawaran mamamil. Duileeee, wawancara anak TK?? Macam gue bisa aja. Gue kan ga doyan anak kecil. Tapi ternyata setelah dijalanin, aku sukaaaa! Anak2 TK yang gue wawancara itu oh so cute! Awal2nya doang pada jaim. Udahannya ngajak tos mulu sampe pegel. Belom lagi sesi poto2 di mana mereka ga mau berenti dipoto aja dooong! Hahahaha.. Cuma tetep gue gak tahan kalo udah pada jejeritan. 1 anak jejeritan gue fine, tapi kalo udah 5 orang, makasih lho. *elus2 kuping*

To be honest, gue seneng ketemu dan kenal sama Inez. Satu, Inez seumuran sama gue jadi obrolannya nyambung. Mulai dari isu2 tesis, sampe masalah pacar. Curhat2an pula kita jeng. Emang yah dimana2 gak boleh banget cewek2 ngumpul. Ujung2nya curhat booo. Sampe2 dia berantem sama pacarnya yang LDR gara2 dia lagi penelitian di Indo aja dia cerita dan nanya pendapat gue. Hihihi.. ya kita jadi ngebandingin sama mamamil sih, ratunya LDR. 😆

Surprisingly, ada beberapa value yang ternyata sama antara gue dan Inez, dan ini bikin obrolan buat adaptasi jadi lancar. Ya bagemana bok, gue dilepas berduaan doang sama ini orang. Sama orang Indo aja gue suka gagu gak tau mau ngomong apa, masa sama bule ngomongnya kalo gak traffic ya weather? -_-“

Terusnya gue jadi tertarik sama topik penelitiannya Inez karena itu juga kan bagian dari intervensi sosial tapi yang dikerjain sama institusi. Ceritanya gue mau minta jurnalnya dong kalo dia udah selesai nulis tesis. Eh dasar ini orang baiknya minta ampun gak tau dia makan apaan, dia mau ngasih file tesisnya ke gue.. Termanis deh kamuuuu.. :’)

Pas hari terakhir penelitian kita sempet tukeran kado aja dong. Hahahaha.. Inez ngasih gue gantungan kunci sama fridge magnet Amsterdam. Gue standar lah ngasih pashmina batik, bahannya silk apa chiffon gitu gue lupa. Terus atas prakarsa bapak Mbee, ngasih kartu Magic juga yang gambar Angel, as a good luck charm buat dia.

Kemaren Inez-nya udah pulang ke Holland, actually I missed her a bit sih. Mengutip dia,

It’s weird and amazing that you met someone, build a friendship, and get close in a very short time, and then in the end you have to say good bye and don’t know if you’re going to see each other again or not.

Tadinya gue pikir itu cheesy2nya dia aja, ternyata pas udah selesai kerjaannya kok ya bener banget omongan dia. Hahahaha..

So Inez, wherever you are right now, I’m wishing you tons of luck in everything you do. See you when I see you again! :’)

*dan si bodoh Andrina gak poto bareng Inez aja dooooong.. :lol:*

social climber at its best

I heard this one story from a friend of mine, semoga bisa menjadi pembelajaran buat kita semua ya 🙂

P.S. di depan: Cerita disensor sedikit demi keselamatan umat manusia dan gue ceritanya dari sudut pandang orang pertama.

I have this one friend, sebut aja namanya Kayla. Di lingkungan pertemanannya, Kayla dikenal sebagai orang yang pelit. Tadinya sih dikira emang pelit dari sononya, ternyata karena uang jajan yang dikasih sama orang tuanya selalu ngepas buat ongkos ke kampus dan makan 1 kali di kampus. Ya, kalo lagi hoki dikasihnya sih lebih. Lebihnya? Hmm.. let’s say cuma 25% dari total uang jajannya hari itu. Yeah, keterbatasan itu yang bikin Kayla keliatan pelit di mata gue dan temen2 yang lain.

Tadinya di geng gue, Kayla gak dianggep ada. Sorry to say, geng gue kebetulan isinya anak orang tajir semua. Kayaknya sih gue yang paling kere di sini. Tapi berhubung dari semester2 awal kuliah gue sering dapet kerjaan freelance dan masih dikasih uang jajan juga sama orang tua, so far sih gak pernah ada pressure. Orang tua gue juga dari dulu memang menanamkan nilai bahwa beli barang bagus biasanya ada konsekuensinya, yaitu harga. Walaupun gak jarang nemu barang bagus dan harga terjangkau. But if you want to get the best quality of a product, usually you’ve got to pay more than the usual, right? 😉

Dari awal, Kayla selalu ngemis2 biar diajak jalan sama geng gue. Tapi ya gitu deh, tiap nongkrong di mana, yang dibeli pasti yang paling murah atau nodong kita2 buat ngejajanin. Lama2 ya bete lah, kok dia nodong sih? Siapa elu heh? Kasarnya gitu.

Kayla makin dianggap annoying sejak dia mulai suka ikut campur urusan pribadi temen2 yang lain tanpa diminta. Acting like a psychologist *yang mana mah beda jauh aja dari jurusan kuliah*, dia terus2an nasehatin kita kalo lagi curhat. Lalu nasehatinnya maksa. Sambil marah2. *sigh* Rasaan nyokap gue gak seribet ini deeeh? Begitu komplain temen2 gue yang lain soal nasehat2nya Kayla.

Semua kekesalan temen2 gue masih ditahan2 sampai pada akhirnya suatu hari Kayla minjem barangnya Tania dan tau2 dia ngilangin barang itu begitu aja tanpa ngerasa bersalah. Oh bukan cerita baru sih Kayla ini careless dan sering ngilangin + ngerusakin barangnya. Setelah kejadian Tania, sempet ada lagi tuh kasus yang sama kayak gitu. Kali ini sama Lia. Beruntungnya Lia, dia nemuin barang yang tadinya dipinjem Kayla itu lagi tergeletak manis di kamar mandi kampus. Kaylanya lupa aja dong kalo pernah minjem itu. Sampai 3 minggu kemudian baru panik karena dia baru ngeh karena barang pinjemannya gak ada di dia.

Sama gue ada masalah gak? Ya tentu aja ada. Jadi gini, gue gak suka banget sama orang yang hobinya bluffing buat naikin kelasnya dia. Kebetulan aja meskipun orang tua gue gak tajir melintir, tapi  mereka memang punya barang2 yang ‘berkelas’ dan secara gak langsung ngajarin gue untuk begitu juga, tentunya sesuai kemampuan finansial dong.. Nah si Kayla ini kalo gue lagi cerita abis beli barang apa hasil kerja freelance atau dikasih barang apa sama orang tua gue, dia pasti langsung nimpalin dengan cerita bahwa dia juga punya barang yang serupa sama punya gue tapi mereknya lebih mahal. Apakah gue percaya? Tentu tidak, kan saya beri Combantr*n soalnya apa yang diceritain Kayla itu gak pernah ada buktinya.

Dia bilang sepatu yang dia punya minimal banget mereknya Charles and Keith. Tapi yang gue dan temen2 gue liat, Kayla selalu pake sepatu keds belel yang gak ada mereknya. Gak pernah sekalipun kita liat sepatu Charles and Keith yang dia bangga2in itu. Waktu Tania baru beli eyelash curler Shu Uemura yang limited edition, Kayla langsung heboh dengan bilang bahwa di rumah dia, barang2 Shu Uemura bergeletakan. Tapi lagi2 gak pernah ada foto atau video yang bisa ngebuktiin keberadaan barang2 tersebut. Kemudian ada barang…… etc.. etc.. etc.. and the lies keep going on 🙂

Sebenernya masih banyak boroknya Kayla yang bikin ilfil, tapi jangan lah dibeberin semua di sini. Yang gue mau garis bawahi yaitu, Kayla sebenernya gak pede sama kemampuan finansial dan taste-nya terhadap suatu barang. Jadinya demi keliatan keren, dia jadi follower dan bluffing bahwa dia juga punya barang2 yang temen2nya punya, even more. Waktu gue ngobrol sama temen gue, dia cuma ketawa dan ngucapin selamat karena gue udah ‘miara’ social climber. Individu yang jadi musuh di mana2 termasuk arisan sosialita. Arisan sosialita what?? I don’t really care sih, orang tas aja mampunya beli TLTSN, kok mikirin sosialita? =)

Jadinya ya sekarang sorry to say, Kayla lagi dijauhin sama temen2 geng gue. Gak perlu lah dilabrak, udah bukan SMA dan gak model juga main begitu di kuliahan. Ada konsep seleksi alam kan, biar nanti Kayla dan segala kebusukannya diseleksi sama alam, masih pantes gak dia temenan dengan cara kayak gitu? 😉

Oh well, having a social climber friend is really sucks yah menurut gue. Bawaannya ngajak saingan mulu padahal saingannya soal apa juga kadang gak jelas. These narrow-minded people biasanya sih ngajak saingan soal materi, karena dia insecure sama kemampuan finansial dan kemampuan sosial sehingga dia ngerasa perlu untuk nonjolin materi sebagai kelebihannya. Ya deh kalo social climber-nya tajir jadi bisa saingan. Lah kalo orangnya aja belom berpenghasilan terus cuma ikut2an biar terlihat keren? Dih.. Ilfiiiiiiilll! =)

Gue pribadi sih paling males berhadapan sama orang kayak gini. Duh semoga gak ada temen2 gue yang social climber model Kayla ya.. What would you do kalo nemu orang kayak begini? 😀

weekend pertama di semester DUA! :3

Aaaaah akhirnya setelah libur semester kurang lebih sebulan, gue masuk kuliah juga minggu lalu. Excited-nya ngalah2in first date sama Mbee. Lewat kamu Mbeee! Lewaaaaattt! #drama

Nah, kalo semester kemarin aku sejurusan Insos ada 10 orang, semester ini kami tinggal………..

BERTUJUH.

1 orang pindah ke jurusan SDM *we miss you papa Iaaaaan!*, 1 orang lagi matrikulasi semester ini. Buat yang gak tau, program S2 Terapan di Psikologi UI ngebuka yang namanya semester matrikulasi. Matrikulasi ini isinya dasar2 pengetahuan Psikologi kayak filsafat umum, psikologi umum, dsb. Matrikulasi sasarannya of course yang S1-nya non-psikologi biar gak shock ketika kuliah nanti dosennya dikit2 ngebahas teori psikologi yang diajarinnya di S1. Buat yang ikut program penerimaan bulan Desember ya baik sarjana psikologi maupun non-psikologi kudu ikutan matrikulasi. Tapi kalo yang ikut program penerimaan bulan April kayak gue, ikut matrikulasinya pas semester 2.. Ribet yah? Emberrr.. Gue aja baru tau ada matrikulasi pas gue udah masuk kuliah S2. Hahaha..

Nah, tadi kan baru bahas 2 orang. 1 orang lagi kemana Chie? Sini duduk manis tante ceritain.. *brb duduk manis di sofa*

Jadi sebut saja mba2 ini dengan mba Andhin. Mba Andhin ini orangnya ignorant luar biasa sama tugas dan deadline. Sibuk banget kerja dan absen di semua mata kuliah lebih dari 4x, which is kalo kayak gitu absennya kena cekal dan harusnya gak boleh ikut UAS. Pas kemarin hari pertama kuliah, liat namanya mba Andhin gak ada di daftar hadir mahasiswa ya reaksi kami bertujuh sabodo teuing. Lha orang kadang suka lupa kok kalo dia ada. Semacam jalangkung gitu cyiiiin, datang tak dijemput pulang tak diantar. Mhihihihi..

Akhirnya seorang teteh baik hati di kelas pun berbasa-basi-busuk BBM si mba Andhin. Begini kira2 percakapan mereka…….

Teteh Baik (TB): Mba Andhin, gak masuk kuliah?

Mba Andhin (MA): Oh, udah masuk kuliah ya? *gubrak 1*

TB: Iya.. Ini hari pertama kuliah mba..

MA: Aku kemaren lupa registrasi.. Gak ngeliat2 lagi jadwalnya jadi tau2 kelewat aja waktu bayarannya.. *gubrak 2*

TB: Oh gitu.. Iya kalo udah sekarang kayaknya sih dianggap mengundurkan diri mba..

MA: Aku kemaren mau ngajuin cuti tapi gak tau gimana caranya.. *gubrak 3* *padahal Teteh Baik aslinya angkatan 2011 tapi cuti setahun jadi baru kuliah bareng gue dan everybody knows dia cutbrayyyy*

TB: *speechless*

MA: Ya udahlah ya, nilai2ku juga kemaren ancur2an *menurut ngana??* Mudah2an nanti ada kesempatan buat kuliah lagi soalnya sekarang aku juga sibuk banget sama kerjaan..

TB: Iya mba Andhin, mudah2an nanti ada kesempatan lagi ya..

MA: Iya.. Nanti kalo udah sempet aku main ke rektorat deh.. *gubrak 4* *BUAT APA NGANA KE REKTORAT HAAHHHH???? #setres*

Ya.. Udahlah.. Ya.. *tertunduk lesu* *speechless gak tau mau komen apa* Sudahi cerita tentang mba Andhin karena ya kami bertujuh sama sekali gak kehilangan dia juga sih. Intinya emang lebih baik ngana jauh2 aja dari kami ya. Dasar tidak berguna! Huh! *timpuk botol susu*

Anywaaaaay *kibas rambut* kuliahnya sendiri gimana?

Alhamdulillah so far so good. Enjoyable ya meskipun ada 1 mata kuliah yang metodenya sama persissss kayak semester kemaren berhubung yang ngajar juga sama. Malesin deh.. Semoga sih dosen ini serius pensiun aja karena doi udah tampak gak niat ngajar juga. Ya masa dia bilang dia capek ngomong karena udah tua. Well, ma’am, I don’t think you should teach if you think you’re too old to talk. Even Pope wrote his resignation letter.. -_-“

Ada 1 mata kuliah yang aku tampaknya akan cinta mati2an. Judulnya Psikologi Kebijakan Publik. Judul text book-nya Public Policy Analysis. Jodohkah aku sama policy? Aku excited luar biasa lah sama matkul ini.. :3

Well, doakan aku survive kuliah semester ini ya dan berhasil menemukan topik tesis yang fix. Kebanyakan yang mau aku teliti dan intervensi nih. Hihihi..

In the meantime, aku baca bahan presentasi buat Jumat dulu yaw! Dadaaaaaahhhhh.. *tebar lopelope*

tentang si Jum

Ini cerita seorang teman. Harap diingat, nama dan lokasi disamarkan. Apabila ada kemiripan, maka………. Ya mungkin emang mirip aja. Mwahahahahahahaha..

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bbm gue, nanyain apakah gue kenal dengan seseorang, sebut saja si Jum *bukan nama sebenarnya*. Gue bilang iya gue kenal tapi gak deket, pun udah lama banget gak ketemu dan gak pernah kontak2an. Gatel dong eike nanya ada apaan tiba2 nanya si Jum.

Ternyata teman gue itu dapet follower request dari si Jum di twitter-nya. Karena teman aku itu tidak sombong lagipula rajin menabung dan membantu ibu di rumah, diterima lah lamaran follower request tersebut. Apakah di-follow balik? Cencu cidak, karena setelah melihat timeline si Jum, teman gue gak berminat untuk mem-follow balik karena eh karena, TL si Jum isinya cuma: follback akoh ya qaqaaaaaaa!

-____________________-”

Ya menurut ngana aja lah, sapa yang mau liat begituan mulu di timeline-nya? Eh, jangan2 itu cuma gue dan si teman itu. Mhihihihihi..

Gak lama, Jum mention teman gue: hai hai, follback gue dong!

Teman gue spontan *uhuy* bbm pake nge-PING segala. Isinya cuma 3 kata: DISURUH FOLLBACK! ASYEM!

Gue cuma oh-yaudah-cuekin-aja-kalo-emang-gak-mau-follback-toh-twitter-twitter-elu.

2 hari kemudian Jum mention doi lagi dong bok. *sebut saja teman gue ini namanya Sunflower* SUNFLOWEEEEEERRRR FOOOOOLLBAAAAACCCCKKKKK!!

Esmosih jiwa raga dan sanubari ga sih lo bacanya? Minta di-follow kok maksa? Gue mah ngakak2 aja pas diceritain, tapi pasti sih ilfil berat sama si Jum. Gak lama kemudian karena si teman gue ini gak nanggepin mention-annya Jum, doi di-report spam aja gituh. Wew.. Aku.. Sungguh.. Speechless. Freak abis.. -_____-”

Gimana ya, gue ngerasanya ini orang ga tulus amat follow orang. Maunya di-follow balik tapi isi timeline begitu doang dan ga ngebuka komunikasi apapun. Habis di-follback terus minta apa lagi ngana? Pin BB? Nomer handphone buat whatsapp? Alamat rumah? Tagihan listrik? Ukuran beha? #eh

Selama ini gue twitter-an itu ya mem-follow account2 yang menarik dan gue cuma rewel minta di-follow balik sama Mbee. Ahahahahaha.. Yaabeeesss doi ga tau gue bikin twitter padahal udah di-mention. Ampundijehhhh, ada berapa orang yg kamu kenal dan pake nama Achyuss sih Bambiiiiii?? -_-”

Nah kalo soal blog, itu lain urusannya buat gue. Gue akan santai2 aja follow balik beberapa blog yang follow gue. Karena apa? Karena kalo di blog, gue bisa ngeluangin waktu buat santai2 baca tulisan mereka. Blogwalking lah bahasa ketje-nya. Ditambah lagi, blog bikin orang rada effort untuk bikin tulisan, gak kayak twitter yang tinggal hit and run. Eh salah. Type and send maksud eike.. :3

Balik lagi ke soal behavior minta di-follback tapi maksa. Menurut gue, ini sih udah langkah2 menuju penjajahan privasi orang. Ya kalo emang orangnya gak mau follow balik terus kenapa? Apalagi situasinya si Jum ini kenalnya gak deket juga sama Sunflower dan for so many years, mereka gak pernah kontak2an. Freak banget ga siiiih tiba2 ada orang dateng terus maksa mau main masak2an di dapur lo? Huks.

In the meantime, gara2 kejadian itu, gue merasa bahwa netiquette itu penting. Yang gak tau gih googling netiquette apaan. Hihi.. Meskipun ini dunia maya, mbok yaaaooooo itu manner-nya tetep dijaga dan dipeliharaaa.. Gak perlu lah SKSD begitu meskipun memang pernah kenal di dunia nyata.. Kayaknya gak perlu ketambahan Pepi satu lagi deh dalam hal SKSD di dunia maya.. -_-”

So, awesome people, coba ya kita masing2 berefleksi, have we behave nicely toward people on the internet? Have we stepped over the lines they set before? Have we treat them the way we want to be treated by them? Hayooooooo.. 😉

Meanwhile, aku makan dulu ah qaqaaaaa! See ya next time! 😀

P.S. Aku kualat kayaknya. Barusan Jum mention aku: APA KABARNYAAA? FOLLBACK DOOOOONG!

*backsound Mario Bros*

*terjun ke jurang*