commitment in pets

It’s been 3 days since the last time I saw Bravo. He’s boarded in Rumah Terraria since Sunday cause me and Mbee (and his family) will be going on a Bali road trip. He already went since Monday cause he has to pick up his mom in Kediri. Me? I’m trapped in the last days of my training session in my new office (yes, I got another job, people!) and I’ll be going tomorrow afternoon by plane.

Actually I’d like to scream out loud “MAMAK RINDU KALI SAMA KAMU, BANG!!”

Though this morning pak Tajri sent Mbee some photos of him playing in the playground, but still, I miss him like crazy. 😦

My point is, how could some people have pets, raise s/he from the baby days and throw them away when they are old? How could they be so rude and heartless? I mean like, Bravo is not that young anymore, he started to change into an old man. So when we decided to go on this trip, we did prioritize his comfort during our trip.

Oh well those people, don’t they think of their pets before they throw them out the street? Have they ever wondered how the pet that was once the winner of their heart would survive in the street? Have they ever put themselves in these pets’ shoes? Unable to entertain the owner anymore so they deserves the rough life? I think it’s the same as working in a company. You no longer performing and slowly become the burden, then the boss could throw you away. Life’s a bitch, isn’t it?

I myself, though I know that Bravo is in good hands, am still wondering has he eaten his meal, how is he doing there, have I crossed his mind, is he happy, and so on. I couldn’t put myself in those people’s shoes regarding throwing old pets matters.

It is cute, cool, and maybe trendy to buy or adopt a puppy/kitten. But it costs us more responsibility when they turned older. Because when they’re old, they need us more than they did when they’re just a tiny baby. All this year Bravo has been in and out of the vet. Despite the bills we have to pay, we are glad to know that he’s still with us. I couldn’t imagine myself throw him away in the streets. Throwing him away would never ever existed in my dictionary. What existed is my urge to hug him, cuddle him, and cherish him the whole day.

Before closing this post, I’d like to remind you that please do consider your lifestyle and the pets’ comfort before getting one. Because pets may be only a tiny part of your life, but you will always be their whole life.

Happy wednesday 🙂

Advertisements

tepat delapan bulan lewat tiga hari

Aku berhenti menghela namamu dalam nafasku.

Aku berhenti menitikkan air mata ketika menyebut namamu.

Aku berhenti meminta kamu untuk kembali.

Rindu itu masih akan ada di sini, anak kecilku.

Tapi di setiap rindu itu akan teriring doa.

Agar kamu bahagia di sana, di rainbow bridge.

Karena doa seorang ibu adalah doa paling tulus di muka bumi ini.

dogs are not your property

Sebenarnya gue agak miris dengan hal2 yang gue lihat beberapa waktu belakangan ini. Orang berlomba2 punya anjing buat ikut tren semata, terutama tren adopsi. Seolah2 adopsi anjing adalah hal paling keren dan semua orang gak boleh ketinggalan. Well I am sorry but you’re totally wrong.

Gue banyak lihat orang2 yang adopsi anjing karena anjing itu masih puppy, terlihat lucu dan menggemaskan, sehingga bisa dipamerkan si media sosial terutama Instagram. Maksudnya mau jadi social climber, yang kalau tab notifikasinya sepi maka dia akan mention2 orang, yang mana dikombinasikan dengan budaya Indonesia yang nggak enakan, akan membuat orang itu minimal nge-like foto tersebut karena sudah di-summon.

Gue gak mau munafik, mungkin gue bikinin akun Instagram khusus buat Bravo ya bagian dari social climber, hanya memang gue gak serendah itu untuk mention orang2 untuk lihat foto yang gue post. Sebenarnya sih gue merasa sayang aja kegantengan anak gue tersia2 menuhin memori gadget, akan lebih baik kalau diupload dan menghibur orang lain, ya toh?

Tapi kembali lagi, punya anjing itu, sebagaimana punya anak, adalah komitmen seumur hidup. Jangan semangat di awal pas masih puppy nanti pas dewasa dan tua merepotkan lalu mau menyerah.

Ada seseorang yang semangat adopsi anjing sampai 2 ekor, yang 1 mati karena sakit, yang 1 lagi mau dibuang karena dianggap menyusahkan. Gigit anak pemilik kontrakan, makannya banyak, gak ada yang urus, si empunya terkena terminal illness, banyak alasannya.
Yang 1 lagi ada lah adopsi anjing, lalu dikasih biskuit cokelat dan kismis, yang mana bisa meracuni anjing. Belum lagi dikasih parfum dan bedak bayi. Lalu tiru2 pose orang lain di media sosial dan tidak menghargai hak cipta.

I personally think no one should let these people alive in the first place. *jedut2in kepala ke meja*

Komitmen memelihara anjing itu gak sekadar mampu memberi makan, tapi juga melatih, merawat ketika sakit, dan gak menyerah ketika si anjing gak bisa lagi lincah karena usia. Kepikiran gak kalau kita tua, anak kita ngebuang kita di jalan the way we threw away our old dogs just because they’re no longer entertaining? Oh well, bukan kita sih, elo aja, gue mah enggak.. :p

Adopsilah karena sayang, bukan untuk dipajang.
Seleb Instagram adalah sesuatu yang semu, buat apa berkoar2 komitmen untuk sesuatu yang semu?
Anjing bukan properti untuk jadi terkenal, dapat sampel, dapat barang gratisan, atau masuk ke lingkar pergaulan tertentu.
Jangan pura2 cinta kalau hanya di depan kamera.
Dogs are not property, they are love machines.

Counting down to September 7th, the first day we met. It’s almost two years, yet not a single feeling has changed.
Black nose has turned pink-ish, muscles are weaker, sights are worsening.
But my promise to stay with you till death do us part would never change.
I love you even more, Bravo SummerWave..

Posted from WordPress for Android

ngintip, terus kabur

Maksudnya ngintip forum di internet ya, bukan ngintip kamar pas apalagi ngintip tetangga mandi. #eh

Setelah Frosty dibawa pulang, gue sama Mbee sempet senewen hampir seminggu karena anak ini gak mau makan. 2 hari pertama di rumah bener2 gak mau makan. Sempet muntah 2x dan pupnya encer. Susu pun ditolak sama dia, padahal udah dikasih dry food VitalCan yg premium dan sekilonya 100ribuan ituh. Gimana gak senewen?? Di-downgrade pake Pedigree puppy gak mau juga. Cuma dicekokin madu dan VitalCan sepotong2.

Orang2 di sekitar gue pada rempong, nyuruh kasih obat cacing lah, ini lah, itu lah, nyuapin langsung anak ini pake ayam rebus. Tanpa mengurangi rasa hormat, bantuan itu sia2. Anak gue jadi gak mau makan dry food sama sekali dan gak mau minum air selain Aqua dingin. Harus Aqua ya, gak mau yg lain.

Di tengah rasa frustrasi dan senep, gue snap. Frosty gue marahin. Gue pangku, gue telentangin dan gue bilang bahwa gue sayang sama dia tapi gue bisa jadi sejahat ibu tiri di sinetron. I won’t feed him boiled chicken breast anymore selama dia gak mau mau makan dry food-nya. Gue bilang juga bahwa gue mampunya sediain ini, dan dia harus nurut. We are his pa(w)rents, so we love him with our way.

Besoknya, Frosty lahap banget makan Best in Show abangnya, dan sampai hari ini konsisten makan itu, cimit2 tapi sering. Susu masih gak mau, dan gue gak maksa selama dia masih mau makan. Toh udah lewat 2 bulan, masa sapih normalnya. Bulan depan insya Allah mau vaksin barengan sama abangnya yg masuk jadwal annual shot.

What’s the lesson learned?

Buat gue, adalah dengan tutup kuping dan mata. Gue kemarin itu cuma konsul via whatsapp sama dokternya anak2. Gak berani dibawa langsung karena hujan terus, ngeri kalo kepapar cuaca gak bener malah tambah sakit. Gue googling dan nanya Icha, oom Don, sama kak Indah juga karena mereka pengalaman. And the three of them menghargai gue dan Mbee dengan gak mengintervensi. After all, it’s our family. Ngintip foum isinya orang2 blaming dan judgmental doang, sama aja kayak yg pernah gue tulis sebelumnya. Pffft..

Buat orang2 pada umumnya, please don’t step into somebody’s business. Percayalah, semua orang berusaha yg terbaik buat anaknya. I just don’t want to spoil my babies and thank you for your and your and your intervention because they didn’t solve the problem, even creating more. Put yourselves on other’s shoes before acting or preaching, please.

P.S. Alhamdulillah Frosty sekarang udah jauh lebih lincah dan badung. Tapi akur banget kok sama Bravo, they create a very strong bond toward each other. Dugaan sementara adalah Frosty separation anxiety dari induknya, dan pelan2 bisa adaptasi sama rumah dan keluarga barunya, termasuk hobi barunya nyium2 dan jilat2 abang Bravo sampai abangnya bete. Hahaha..

P.S. lagi. Jangan nyuruh gue beli dog food super duper premium, anak gue nolak mentah2 VitalCan dan lahap makan Best in Show. Lalu gue harus protes? Dan siapa yg bilang dog food ‘murah’ bikin bulu gak glowing, jelek, dsb. Sini dateng, liat bulu Bravo, baru komen. Dasar emak2 comel 😆

Posted from WordPress for Android

growing from three to four

Okay, now we’re officially a family of four! Ahem. Minus the marriage title and the real birth certificates, of course! *chuckles*

The new addition to our family is a mongrel puppy a.k.a. anjing kampung. He is the laziest chattiest and the most annoying puppy ever. He sleeps all the time, he yelp all the time *and mostly because his size is just the same as Bravo’s head, you know what kind of accident could happen..* and seek attention trying to rival his big brother. The only time I feel like heaven is when they are asleep. Phew!

But anyway, that’s the good news for now, gotta get back to reality. Big boy is sleeping next to me, refusing his breakfast and treats. Little boy already had his breakfast, munched a small portion of his lunch, and now is wandering around the room. Me? Having my me time for a while by typing this blog. Little boy will fall asleep soon, I am sure, so I feel safe letting him out of my supervision for a while. Here comes cuddling time with the big boy. Bye! 😀

meet Frosty :)

meet Frosty 🙂

jadi pa(w)rents itu susah!

Maafkan yah, daku lagi suka nulis tentang ini, berhubung wadahnya belum jadi alias website komunitas belum dibenerin, jadi ngoceh di mari aja dulu. Ehehehe.. Semoga gak pada bosen 😀

Berkaitan sama postingan gue yang sebelumnya, berat banget ya bok jadi pa(w)rents. Maka dari itu gak kebayang kompetisinya kalo gue udah punya anak beneran, ceunaaahhh ini emak2 kok mulut dan jarinya pada kayak silet. Pasang kacamata kuda aja lah ya! Hup! Untungnya masalah pa(w)renting, gue dan Mbee termasuk orang yang bisa dibilang cuek bebek banget sama komentar orang. Hamdalah berkah bener punya anak ganteng, paling yang dikomenin soal gendutnya yang mana………. it runs in the blood, baby! *liat timbangan* *seret Mbee buat bakar kalori sama2 biar langsingan*

Soal tingkah laku emak bapaknya, ajegile, kudu ati2 bok, copycat bener si bocah ini soalnya. Bener2 punya Apohh tuh jadi tahap belajar untuk nanti ketika punya anak beneran *amin!*. Misalnya gini, gue sama Mbee itu adalah manusia tukang ndusel, dalam artian duduk sebelahan tuh bisa tiba2 ndusel2 gak penting. Atau stolen kisses di pipi pas di rumah atau di mobil. Masalahnya, kalo di mobil kan bocah kite duduknya di belakang ya, lalu lihatlah dia emak bapaknya ndusel2 dan cium2 pipi. Dipraktekin aja lah di rumah. Tadi gue tidur di sofa bed di rumah Mbee sama Apohh, abis aja pipi gue dicium2 dan didusel2in sama anak itu. Gue? Tak bergeming, tepar berat. 😆

Belum lagi gue kadang kan suka bikin gestur ngasih paw ke Mbee sambil melet2 lalu akan di-pukpuk sama dia *iya, kelakuan emaknya emang agak keasu2an alias haus praising* akibatnya apaaaaaa?? Apohh sekarang kalo lagi tiduran di sebelah gue bakal nge-pukpuk kepala gue, dan kadang nyasar ke boobs. APOOOOOOHHHH!!! >.<

2 kejadian ini bener2 bikin gue melek bahwa binatang (dan anak) adalah copycat terdahsyat yang pernah ada di dunia ini. Siyal, ada gitu teorinya di Psikologi, bisa2nya gue meleng. Tapi lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali kan, mari kita mulai upaya perbaikan kelakuan emak bapaknya Apohh supaya gak nularin yang aneh2 ke anaknya. 😀

Hal yang perlu diperbaiki adalah gak keseringan pegang gadget depan bocah. Bocahnya suka ngambek kalo gue dan Mbee mulai main gadget apalagi cuma buat main Candy Crush. Wuiiiihh betenya maksimal! Kadang emang kepaksa karena harus ngebahas kuliah atau kerjaan, atau kirim e-mail penting, ya jelasin deh ke si bocah bahwa we need to work for a while, and will get back to him real soon. Ngerti sih, tapi tetep ngambek dulu munggungin emak bapaknya. Jiplakan gue amat siiiih kelakuannya! *tutup mata*

Nah kesimpulannya adalah, pastinya memperbaiki kelakuan sebagai pa(w)rents dulu lah sama Mbee, supaya gak ditiru sama si bocah tua nakal, dalam rangka tentunya membiasakan dan menyiapkan diri untuk nambah anak. Akuuuu mauuuu anjing gede satu lagiiiii.. Boleh ya Mbeeeee? *puppy eyes* *di-pukpuk Apohh*