what makes you beautiful?

Nggak, ini bukan soal One Direction yang judul lagunya begitu. Tapi beberapa waktu belakangan gue kepikiran ini aja, wabil kheuseus sejak geng syariah edun di kantor gue bikin grup whatsapp yang isinya racun meracun masalah make up dan skin care. Gue sih jujur aja, dari kecil gue gak pernah menganggap diri gue sendiri cantik. Jauh buanget dah dari kategori cantik. Mengutip kata karakternya Anne Hathaway di film Devil Wears Prada sih,

I’m not skinny, or glamorous. And I don’t know that much about fashion.

Lambat banget lah gue soal cantik2an. Ketika teman2 gue udah mulai pakai eyeliner gue masih aja asoy ke sana ke mari dengan t-shirt gombrong terus nggak pakai sunblock. Yikes. What did I do in the paaaaast?? Untungnya, lucky me, thank God, muka gue relatif jarang banget jerawatan. Sempat khilaf pakai salah satu merk skin care remaja terus ujung2nya jerawatan batu hampir semuka tapi ilang gitu aja nggak ada bekasnya. I guess God loves me that much or He worries about me that much because I simply didn’t care at all. Hahaha..

Sekarang mah jangan ditanya, kegatelan kalau liat lipstik. Ih warna ini belum punya, lah kok itu lucu? Eh mau ini juga dong, yang itu mau jugaaaa.. Ganjen banget deh bertiga di grup soal lippensetip, mana harus yang ngejreng gitu warnanya. Kebetulan gue sih bukan banci eyeshadow juga ya jadi entah kenapa sejak kerja di sini jadi ganjen dan tau2 pede aja gitu ber-lippen merah jreng. Sesuatu yang dulu bisa bikin gue kabur ke ujung dunia kalo disuruh pakai. Mwahahaha..

But still, I don’t think I’m beautiful. I don’t mind if people call me ugly. Ya karena gue nggak merasa bahwa fisik itu segalanya. Menurut gue sih, percuma ya ngana jadi orang cantik luar biasa tapi bloon gitu, kuliah nggak lulus2, skripsi aja harus dibikinin sama pacarnya, cuma bisa mall hopping kalau weekend, bisanya ngabisin duit orang tua, dan sebagainya. Tapi ya nggak bener juga kalau jadi perempuan ngerasa yang penting inner beauty terus ke kantor rambut awut2an muka minyakan baju nggak disetrika dan ada cabe nyelip di gigi.

Yang penting mah balance aja gitu. Rapi, tertata, sama jangan lupa senyuuuuum! Itu resep dari Mbee dan anak2 sih sebenernya. Ada kampret2 lewat di hidup kita ya dibawa ketawa aja. Setresnya jangan lama2. Udah lewat kan kampretnya? Lanjut lagi lah kita wagging our tail happily. Nggak usah lah kalau menurut gue kita gaya ala Kim Kardashian yang pelit senyum karena takut muncul kerutan. Gue yakin nggak mungkin banget lah seorang Kim Kardashian nggak ketawa ngeliat tingkah laku anaknya yang lagi terrible two. Lah gue aja bisa ngakak guling2an ngeliatin anak2 gue kalau lagi ngerajuk masa dia nggak bisa minimal senyum liat anaknya?

Satu lagi resep yang gue pelajari dari geng syariah gue. Jangan suka iri sama orang. Urus diri sendiri aja lah.. Ngurus diri sendiri buat milih warna lipstik aja nggak kelar2 kok ini lagi ngurusin orang lain. Habis lah tenaga uraaaang.. Terus laper deh. Terus makan. Terus nggak kurus2. Terus iri liat orang yang kurus. Terus bete. Terus cemberut. Terus keriput. Mati aje lo! Hahaha..

Anywaaaay, karena ini sudah makin malam dan gue mulai rambling ngaco nggak jelas ujung pangkalnya, let me close this. Menurut gue, masalah cantik2an ini relatif. Ada stereotipe kalau di berbagai budaya mah, cuma nggak usah dibikin pusing. Bikin aja standar sendiri yang tentunya diterapin buat diri kita sendiri dan significant others macam pasangan dan anak. Ya kalau gue mah ya, what makes me beautiful is my boyfriend who loves to look into my eyes then making silly faces to make me laugh. And my kids who simply stare at me when I do my make up in the morning, tapping my legs with their paws asking for attention. I feel loved, thus I feel beautiful 🙂

commitment in pets

It’s been 3 days since the last time I saw Bravo. He’s boarded in Rumah Terraria since Sunday cause me and Mbee (and his family) will be going on a Bali road trip. He already went since Monday cause he has to pick up his mom in Kediri. Me? I’m trapped in the last days of my training session in my new office (yes, I got another job, people!) and I’ll be going tomorrow afternoon by plane.

Actually I’d like to scream out loud “MAMAK RINDU KALI SAMA KAMU, BANG!!”

Though this morning pak Tajri sent Mbee some photos of him playing in the playground, but still, I miss him like crazy. 😦

My point is, how could some people have pets, raise s/he from the baby days and throw them away when they are old? How could they be so rude and heartless? I mean like, Bravo is not that young anymore, he started to change into an old man. So when we decided to go on this trip, we did prioritize his comfort during our trip.

Oh well those people, don’t they think of their pets before they throw them out the street? Have they ever wondered how the pet that was once the winner of their heart would survive in the street? Have they ever put themselves in these pets’ shoes? Unable to entertain the owner anymore so they deserves the rough life? I think it’s the same as working in a company. You no longer performing and slowly become the burden, then the boss could throw you away. Life’s a bitch, isn’t it?

I myself, though I know that Bravo is in good hands, am still wondering has he eaten his meal, how is he doing there, have I crossed his mind, is he happy, and so on. I couldn’t put myself in those people’s shoes regarding throwing old pets matters.

It is cute, cool, and maybe trendy to buy or adopt a puppy/kitten. But it costs us more responsibility when they turned older. Because when they’re old, they need us more than they did when they’re just a tiny baby. All this year Bravo has been in and out of the vet. Despite the bills we have to pay, we are glad to know that he’s still with us. I couldn’t imagine myself throw him away in the streets. Throwing him away would never ever existed in my dictionary. What existed is my urge to hug him, cuddle him, and cherish him the whole day.

Before closing this post, I’d like to remind you that please do consider your lifestyle and the pets’ comfort before getting one. Because pets may be only a tiny part of your life, but you will always be their whole life.

Happy wednesday 🙂

In Loving Memoriam, Flossy BrentWood/Frosty WinterFall

Sejujurnya, gue nggak tau harus mulai menulis dari mana. I did try, dan selalu berakhir di tombol “discard draft”. Bukannya nggak mau nulis, tapi hati ini rasanya nggak sanggup. Terus sekarang udah sanggup? Well, nggak juga sih, tapi gue tau bahwa cepat atau lambat gue harus nulis tentang ini. Mungkin gue bisa mulai dengan ini:

Dearest family and friends,

We are sad to inform that our youngest family member Flossy has gone to the rainbow bridge this morning, February 23rd 2014 at 10 AM after 2 nights at the vet.

We apologize on behalf of his name, if during his short days on earth he might have done something that caused you guys upset or in trouble. Kindly remember him and his fighting spirit whenever you feel like giving up on yourself.

The mourning family,
Sony, Achie, Bravo

8 Desember 2013, gue dan Sony bawa pulang Frosty WinterFall, anak anjing belang tiga umur 2 bulanan dari shelter. Gak sabar pengen dia cepet2 gede supaya bisa main sama Bravo. Gak sabar pengen dia cepet2 gede supaya bisa diajak jalan: gue bawa Bravo karena kami berdua kalau jalan cepet banget, Sony bawa Frosty karena dia jalannya lambat. Bravo sih seneng banget, dan langsung keliatan dia sayang banget sama adiknya walaupun masih keliatan ada sedikit rasa iri karena dia bukan lagi anak satu2nya. :’)

Frosty WinterFall

Frosty WinterFall

20 Desember 2013, Frosty vaksin E4 bareng sama Bravo yang operasi angkat tumor di mata kanan. He was a very good boy, nggak nangis sama sekali waktu disuntik. Sepanjang jalan Jakarta-Bogor-Jakarta juga banyak tidur, pas bangun juga ceria banget. Nggak ada tanda2 sakit sama sekali. Dokter bilang vaksin diulang tanggal 20 Januari.

the cutest mongrel on earth

the cutest mongrel on earth

Beberapa hari setelah vaksin, mulai keliatan perutnya membesar. Abnormal. We all know that. Kebetulan tepat seminggu setelah vaksin memang harus balik ke dokter karena Bravo lepas jahitan, sekalian lah pikir kami. Sementara itu, kami sempat jalan2 ke kebun teh Gunung Mas di Puncak sama Maldi, Rara, dan Missy. Pulang dari sana, masih sempat ke shelter yang akhirnya Maldi dan Rara bawa pulang anak anjing lagi untuk di-foster tapi akhirnya diadopsi juga, Troy.

family portrait

family portrait

Di hari Sophie nggak ada, siangnya kami ke dokter. Diagnosisnya adalah pembengkakan liver dan perutnya isi cairan. Disuntik, dikasih resep juga untuk ditebus. Aduh, antibiotik. Gue bukannya mau sok2 jadi ibu2 RUM (Rational Use of Medicine, cmiiw), tapi ngilu lho ini anak anjing belum juga 3 bulan udah harus kena antibiotik. Tapi mau gimana lagi, demi kesembuhan dia juga kan. Dokter juga saranin untuk ganti namanya, kurang hoki katanya. Well, okay, we then changed the name into Flossy BrentWood.

isn't he lovely? :')

isn’t he lovely? :’)

Pelan tapi pasti perutnya mulai mengecil, kembali normal. Flossy mulai memanjang, mulai aktif, mulai pecicilan. Hati orang tua mana yang nggak senang? Sampai di akhir bulan Januari, Flossy diare. Awalnya gue dan Sony pikir oh masuk angin habis mandi. Dibawa ke dokter dekat rumah. Nggak mungkin dibawa ke Bogor cuma untuk periksa, kasihan anaknya capek di jalan. Dikasih obat untuk setiap habis diare. Seminggu, dua minggu, diarenya on-off. Dibawa ke dokter lagi, katanya infeksi bakteri. Dikasih antibiotik (lagi!!), I feel like shattered into pieces, aduh anak gue kena obat lagi, antibiotik lagi, kapan gedenya? Ditambah lagi, badannya tambah kurus, gak peduli sebanyak apapun makanan yang dia makan. Ke mana semua nutrisi yang kamu makan nak?

getting skinnier

getting skinnier

Gue dan Sony jadi sering berantem, we both got frustrated, nggak tahu harus gimana. Mau bawa ke dokter yang jauh gak tega sama anaknya di jalan. Mau beli makanan yang organik yang mahal itu mikir berkali2. Pertama, sayang uangnya sih, kedua iya kalau anak ini doyan. Dikasih makanan premium waktu itu aja dilepeh. Ya sudahlah makan ayam rebus aja ya nak. As a couple, gue dan Sony gak punya waktu untuk kami berdua. Stres? Iya banget. Hati ini tenang kalau Flossy makannya lahap, dan pas dia tidur di pelukan kami. I often cried at night, questioning why and what did I do wrong to him.

:(

😦

20 Februari 2014, Flossy sepagian gak diare, pup normal, dan makannya lahap. Sony dan gue pergi berdua, just to have a date. Udah lama nggak kencan, dimaafin ya, kalian yang udah jadi orang tua pasti ngerti perasaan kami. We long for being together just the two of us without the kids. Pulangnya, Flossy diare lagi. Semaleman diare dan muntah masing2 4 kali. Sony cried through the night, Bravo didn’t want to be close to his brother, dan gue baru dikasih tahu besok paginya.

21 Februari 2014, pagi2 Flossy dibawa ke dokter Nyomie. Tes parvo dan distemper, semua negatif. Cek tanda2 fisik, positif tick fever atau parasit darah. Sempat diare tapi udah kehitaman. Langsung transfusi (dan untungnya ada donor langsung cocok. Terima kasih banyak Olla), lalu infus. He was so weak, nggak bisa angkat kepala, hanya bisa ngelirik kalau dipanggil. My mom cried when she saw him.

Sorenya, gue dan Sony balik ke dokter untuk bawa Bravo tes, tadinya dokter nggak mau tes karena tanda2 fisik baik semua dan anaknya masih pecicilan gak bisa diem dan genit deketin Olla si beagle cantik. Ternyata tesnya positif jadi harus dapat obat, terus basmi semua kutu2 yang ada. Untungnya memang udah dibotakin karena jamur, jadi lumayan lah tempat kutunya ngumpet udah gak ada. Flossy sempat dibawa ke luar juga, dan udah bisa angkat kepalanya, udah bisa nyium bau wet food juga, mau makan walaupun disuapin sama dokter. Gue sempet bilang,

Baby, pulang yuk. Kamu gak bosen di sini sendirian? Pulang yuk main sama abang.. Remember I owe you a red hot Flexi leash just like abang’s?

Flossy looked at me in the eye, he nod once and smiled. But it was the strangest smile I’ve seen from him. Feeling gue nggak enak. But I don’t know why.

:(

😦

22 Februari 2014, nggak sempat jenguk Flossy karena gue kuliah sampai sore banget dan gue sama Sony juga kecapean karena kurang tidur. Niatnya jenguk hari minggu sore, pulang dari pergi.

23 Februari 2014, pagi2 gue udah males banget mau pergi, badan rasanya meriang dan bawaannya pengen jenguk Flossy. Tapi apa daya memang harus pergi. Sepanjang perjalanan gue gelisah banget. Di tengah jalan menuju lokasi kedua, kira2 jam 11, dokter Nyomie kirim BBM ke Sony.

Pagi ini RIP, tampaknya kerusakan organ udah terlalu berat.

Langsung putar balik ke tempat dokter, ambil jasad Flossy. Gue mau mandiin dia dan puas2in peluk cium dia sebelum harus say good bye untuk yang terakhir kalinya. Kata dokter, dia nggak ada sekitar jam 10an. Habis disuapin makan, dia tidur dan dokter naik ke lantai atas. Pas turun jam 11 udah nggak ada.

Sampai sana, jasadnya masih lemas, belum rigor mortis. Gue whatsapp-an sepanjang jalan sama Icha dan sempat telepon Maldi sama Rara, and they were speechless it was a damn short phone call. Setelah say thank you dan bayar vet bills, kami pulang ke rumah. Di jalan gue sibuk mikirin mau ngomong apa sama Bravo. I feel like a failed mom now that my kid just died like that.

Sampai rumah, Bravo lagi nungguin di sofa bed, dari jendela kelihatan mukanya cemas. Begitu liat gue masuk rumah, Bravo nyamperin dan excited cium2 pet carrier yang gue pakai untuk bawa Flossy. Dia lompat2, endus2, tapi bingung karena ada bau adiknya tapi nggak ada respon. Gue taruh pet carrier di lantai, gue keluarin jasad Flossy yang udah dibungkus koran sama dokter. Bravo endus2 lagi, lalu jasad Flossy didorong pakai hidungnya. Nggak ada respon. Then he tried again. And again. And again.

He stared at me questioningly, totally confused why his little brother is wrapped and cold and not moving. Dengan berat hati, gue bilang, “Bang, he’s gone”. Bravo nutup mata, shaking his head, dan dia nangis di pelukan gue. I can sense the anger, the sadness, all the mixed feelings battling inside him. I can do nothing but hug him hard and kiss him. Nggak tahu siapa yang berusaha menguatkan siapa. Both of us were destroyed that day.

Gue lalu mandiin Flossy, sengaja gue guyur hidungnya, I wanted him to cry, I wanted him to wake up and it’s all just a joke he’s playing at us. I stroke every inch of his body, making sure he’s in my memory forever. I didn’t cry, maybe I was too tired and too sad to cry. Bravo was there when I bathed Flossy, but he didn’t want to look at his brother. His mind is wandering away somewhere else. We exchanged look several times, he’s crying, but he tried to reassure me that everything’s going to be okay. Hah, like I can trust you with that face, boy. We are sad, all of us, don’t pretend to be okay.

I dried Flossy and was absorbed in the moment, karena ini terakhir kalinya gue bisa gendong2 dia, mandiin dia, keringin dia. Setelah kering dan nunggu Sony selesai gali lubang untuk ngubur, gue kirim berita duka via whatsapp, sms, dan Instagram. Respon yang datang sungguh di luar dugaan gue, banyak banget orang yang nyempetin untuk komentar dan balas whatsapp gue. Banyak banget orang yang patah hati dan sedih. Liat sayang, banyak banget orang yang sayang sama kamu nak. Banyak banget orang yang doain kamu, banyak banget yang ikut sedih karena kamu nggak ada. You are missed, baby.

he looks like he's sleeping :')

he looks like he’s sleeping :’)

Gue pakein Flossy baju yang baru gue jahit untuk dia tepat seminggu sebelumnya. He loved it and was so sad because it got wet by his pee. Anak ini ternyata suka warna ungu, kayak mommy-nya, and it broke my heart even more. Gue bungkus dia di selimutnya, dan minta Sony yang taruh di kuburannya, I’m not that strong. We put him in his sleeping position, karena memang dia keliatan kayak lagi tidur. Dan anehnya, ketika dia dikubur jam setengah 3 sore, badannya masih lemas. Sama sekali nggak ada rigor mortis. Hanya dingin. Not alive. This is not Flossy, this is not my baby. My baby is warm, my baby is smiling shyly, my baby is alive..

I cried for several days after that. I’ve experienced mixed feelings karena selain sedih banget kehilangan anak yang biasa nemenin gue begadang ngerjain tesis, gue lega dia udah nggak sakit lagi. But still, this is hard for me. Nggak kebayang suatu hari nanti gue harus ngerasain hal serupa ketika Bravo habis waktunya di bumi. 😦

Terima kasih banyak Flossy BrentWood, selama kurang lebih 2.5 bulan kamu di sini, kamu udah ngajarin mommy, papaw, dan abang Bravo banyak hal. Most importantly, you taught us to not giving up no matter how many times you’ve been judged by people out there. Kamu terus fight, meskipun akhirnya kamu sampai juga di batas perjuangan kamu. Tapi kamu akan selalu ada di hati orang2 yang kenal kamu sebagai anak yang nggak pernah menyerah. You’re such a stubborn yet sweet kid for all of us.

Thank you for letting us be your family in a very short time. You are missed. So much.

so long, baby.. :')

so long, baby.. :’)

And now, 2 weeks after you’re gone, your smell is fading away from the house. But I can still remember how your collar jingling when you shake your body, I can still see your wagging tail greeting me when I open the front door, I can still remember cuddling you in my arms, and whenever I sleep in the car, I can still feel you sleeping on my chest and my neck. You might have been gone to the rainbow bridge, but your memories remain here with us.

I have talked to Sony, dan kami memutuskan untuk sementara nggak mau punya puppy dulu, entah sampai kapan. Pastinya mau berusaha supaya Bravo sembuh dulu, yang mana obatnya perlu diminum selama 3 bulan kurang lebih untuk menghilangkan semua parasit yang ada di darahnya. Kemarin sempat ditawari adopsi lagi sama seseorang, we have met the dog, and the three of us love her so much, but no thanks. It takes time to heal our broken heart, dan kami mau ketika kami adopsi lagi, ya karena kami benar2 jatuh cinta sama anjingnya. I think the same goes with breaking up, you don’t go around seeking another boyfriend or girlfriend to replace the ex, right? Nanti jadinya gak sayang apa adanya dong dan malah berharap yang baru akan bisa seperti yang lama. Nope, Flossy cuma satu, dan gak akan bisa diganti sama siapapun.

So, now, here we are, just the three of us again, just like what we used to be. But this time, there’s an angel watching us from above. We love you, Flossy BrentWood/Frosty WinterFall. Always have, always do, always will.

assyelaaaamat malaaam~

Well, malam ini ceritanya gue berdedikasi untuk menulis yang agak panjangan dan agak meaningful di blog ini. Tapi jangan marah yah kalau jadinya rambling gak kepuguhan. Mhihihihihi..

2013 gak berasa tau2 udah lewat aja, dan gue banyak belajar, dan in a hard way. Gue akan coba refleksikan satu2 ya..

In education, gue dapet nilai C+ pertama di S2. Amit2 banget dan cukup bikin trauma plus mental breakdown selama beberapa hari. Temen2 kuliah gue semuanya superior, tanpa gue dapet C+ pun mereka sudah sangat mengintimidasi gue. Tapi untungnya gue bisa recover dari kenyataan pahit itu dan ya udah lah ya, life must go on. Gue harus fokus sama tesis yang mana harus banget kelar semester ini. Topik udah dapet, pembimbing udah dapet. Tinggal dikerjain aja.

In relationship, bro gak berasa lho udah 2 tahun pacaran sama Mbee. Ih sungguh bulan2 awal tuh rasanya waktu kayak merayap, tiba2 sekarang udah 2 tahun aja. Udah jarang ditanya kapan nikah, alhamdulillah. Bukan nggak mau nikah ya, MAU BANGET, GILA! Tapi sayangnya fokus hidup belum ke situ. Gue mau fokus selesaiin kuliah dulu dan kerja lagi. We don’t eat love and we do need to earn money in order to survive. Lol.

In ‘motherhood’, alhamdulillah nambah anak satu lagi. Ngerasain juga yang namanya senewen anak sakit. Ya gimana ya, selama ini Bravo gak pernah sakit yang mengkhawatirkan. Kan aku terlena :”)

In work life, alhamdulillah dapet job luar biasa keliling Indonesia yang kagak gue tulis2 postingannya itu. Ngerasain snorkeling di Bunaken untuk pertama kalinya karena job ini. Ngerasain leyeh2 liat sunset di pantai Natsepa, mungkin sunset paling indah yang gue liat seumur hidup gue. Ngerasain jadi orang kaya walaupun sesaat karena abis itu gaji ludes buat bayar kuliah. Mwahahaha tapi sungguh, bisa bayar kuliah S2 sendiri langsung cash jreng itu bangga. Bawa2 duit 13 juta ke teller BNI yang didapet dari keringet sendiri naik turun pesawat pindah2 kota selama 1 bulan setengah itu rasanya terharu. I am no more a kid. :’)

In personal life, emosi sungguh naik turun. Dan somehow punya anak2 kaki 4 sangat membantu untuk regulasi emosi. They are not just pets, they are my buddies. But I managed to got out of my shell dengan jadi volunteer di Animal Defenders, divisi edukasi. I am quite proud of what myself has achieved for the past year. I hope 2014 will be less challenging and more laidback for me. I need to stop sprinting and jog slowly instead. To embrace the beauty of my surroundings. To laugh a lot more, to chill out more, to plan more, and to contemplate more.

Thank you, 2013. I have learned so much. Happy new year. 🙂

ikhlas :)

Ikhlas. A word that’s always easier to be said than done.

Semalem baca blog orang yang nge-link ke blog orang lain. I don’t want to tell what is the content, but sure it’s a very heartbreaking thing to read. Di satu sisi, I do understand how the writer feels, karena gue pernah ada di posisi yang mirip sama dia. Beda sudut pandang but I’ve experienced the same frustration, the same anger, and the same pain. As if the world’s turning upside down like a table flip 9gag meme in front of me. I was in elementary school back then, so it wasn’t a nice thing to feel.

Dan sekarang, di usia nyaris 24 tahun ini, bukannya mah tambah pinter buat ikhlas, kok ya berat amat buat bisa ikhlas. Again, it’s an easier-to-be-said-than-done thingy. Tapi harusnya gak jadi pembenaran juga kan ya.. 😀 *nyengir malu*

To be honest, I have maybe a thousand “why” questions I would like to ask my dear God above. Things happened in my life and things that are surrounding me. Hal2 yang bikin gue frustrasi, hal2 yang gue-gak-tau-apa-maunya-Tuhan-sih, dan hal2 yang I just desperately need the answer or the clue. Iya, di surat Ar-Rahman pun ditulis bolak-balik “Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kau dustakan?” Harusnya ini bisa jadi pedoman buat ikhlas. Tapi lagi2, I seem to find some reasons to deny it. Berbagai “tapi kan” dan sederetan argumen2 sampah lainnya. Intinya, mencari pembenaran terhadap sikap susah ikhlasnya gue.

Padahal kalau mau dilihat2, ya kurang apa sih hidup gue? I have a job, I’m pursuing my master degree, I have the most supporting family, I have an annoyingly ‘cute’ boyfriend, I have a sort-of-mine mixed golden retriever that does silly things to light up my day, I have AGENT, I have *insya Allah* the most loving and comforting future families. What can I ask for more?

Mungkin memang takdirnya manusia untuk gak pernah puas jadinya susah ikhlas menerima kondisi hidupnya. Dicoba dikit sama Tuhan terus mewek, terus mau mati aja *ngomong sama kaca*. Padahal katanya kan Tuhan itu ngasih cobaan buat orang2 yang Dia sayang. Harusnya seneng dong disayang sama Tuhan secara nyata dan eksplisit?

Tapi balik lageeeee susah bersikap nrimo dan inggih2 aja sama kehendak Tuhan. Gak bisa langsung sadar bahwa oh ini bukti kasih sayang-Nya, dll dsb dkk. Butuh banget ditampar buat akhirnya bisa nerima kondisi kita. Itupun gak jaminan abis itu langsung beriman khusyuk jadi makhluk baik2 mati masuk surga. Pasti akan melenceng2 lagi. Ditampar2 lagi. Tobat2 lagi. Belajar ikhlas lagi. Gitu aja rauwisuwis. *sigh*

Oh well, the thing is, gue berasa ditampar kanan-kiri semalem pas baca tulisan yang gue baca itu. Again, I have been reminded to stay calm and accept whatever it is happening into my life. And to stop being so ambitious and overly obsessive-compulsive over small things. Dan di 23 hari terakhir gue berusia 23 tahun, lagi2 gue diingatkan untuk menata hati, pikiran, dan hidup supaya usia gue yang sekarang ini gak gue lewatkan dengan sia2.

We do learned something in this life. I just happened to learn it the hard way. 🙂

*sigh* I won’t say nice things or preach about ‘ikhlas’, karena gue tau sesusah apa rasanya berusaha ikhlas dan lagian kan kondisi orang gak sama. I just hope that eventually, in the end, kalian bisa mengikhlaskan apa yang ada dalam hidup, apa yang pergi, apa yang hilang, dan apa yang akan datang.

Have a good day, friends.. 😉

to you.

i believe that some things happened for a reason. loss, is one of those things. there must be a reason why our dearest God took them away from you.

as i wrote here quite a long time ago, losing something or someone is never easy. but again, nothing lasts forever. humans don’t live forever, so does our stuffs.

to my dear friend, i’m just one phone call away from you. give me a call whenever you need someone to listen to your blabs. *hugs*