dogs are not your property

Sebenarnya gue agak miris dengan hal2 yang gue lihat beberapa waktu belakangan ini. Orang berlomba2 punya anjing buat ikut tren semata, terutama tren adopsi. Seolah2 adopsi anjing adalah hal paling keren dan semua orang gak boleh ketinggalan. Well I am sorry but you’re totally wrong.

Gue banyak lihat orang2 yang adopsi anjing karena anjing itu masih puppy, terlihat lucu dan menggemaskan, sehingga bisa dipamerkan si media sosial terutama Instagram. Maksudnya mau jadi social climber, yang kalau tab notifikasinya sepi maka dia akan mention2 orang, yang mana dikombinasikan dengan budaya Indonesia yang nggak enakan, akan membuat orang itu minimal nge-like foto tersebut karena sudah di-summon.

Gue gak mau munafik, mungkin gue bikinin akun Instagram khusus buat Bravo ya bagian dari social climber, hanya memang gue gak serendah itu untuk mention orang2 untuk lihat foto yang gue post. Sebenarnya sih gue merasa sayang aja kegantengan anak gue tersia2 menuhin memori gadget, akan lebih baik kalau diupload dan menghibur orang lain, ya toh?

Tapi kembali lagi, punya anjing itu, sebagaimana punya anak, adalah komitmen seumur hidup. Jangan semangat di awal pas masih puppy nanti pas dewasa dan tua merepotkan lalu mau menyerah.

Ada seseorang yang semangat adopsi anjing sampai 2 ekor, yang 1 mati karena sakit, yang 1 lagi mau dibuang karena dianggap menyusahkan. Gigit anak pemilik kontrakan, makannya banyak, gak ada yang urus, si empunya terkena terminal illness, banyak alasannya.
Yang 1 lagi ada lah adopsi anjing, lalu dikasih biskuit cokelat dan kismis, yang mana bisa meracuni anjing. Belum lagi dikasih parfum dan bedak bayi. Lalu tiru2 pose orang lain di media sosial dan tidak menghargai hak cipta.

I personally think no one should let these people alive in the first place. *jedut2in kepala ke meja*

Komitmen memelihara anjing itu gak sekadar mampu memberi makan, tapi juga melatih, merawat ketika sakit, dan gak menyerah ketika si anjing gak bisa lagi lincah karena usia. Kepikiran gak kalau kita tua, anak kita ngebuang kita di jalan the way we threw away our old dogs just because they’re no longer entertaining? Oh well, bukan kita sih, elo aja, gue mah enggak.. :p

Adopsilah karena sayang, bukan untuk dipajang.
Seleb Instagram adalah sesuatu yang semu, buat apa berkoar2 komitmen untuk sesuatu yang semu?
Anjing bukan properti untuk jadi terkenal, dapat sampel, dapat barang gratisan, atau masuk ke lingkar pergaulan tertentu.
Jangan pura2 cinta kalau hanya di depan kamera.
Dogs are not property, they are love machines.

Counting down to September 7th, the first day we met. It’s almost two years, yet not a single feeling has changed.
Black nose has turned pink-ish, muscles are weaker, sights are worsening.
But my promise to stay with you till death do us part would never change.
I love you even more, Bravo SummerWave..

Posted from WordPress for Android

2 thoughts on “dogs are not your property

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s