the killing deadline and… LOVE

Halo! *ngos2an* Deadline tesis bentar lagi nih, walaupun tanggalnya nggak jelas juga karena ada beberapa versi, mulai dari versi fakultas yang resmi, ketua jurusan yang lumayan resmi, jurusan lain yang agak resmi, sama versi harapan diri sendiri dan kelompok. Muahahahahaha.. Ya maap ya, namanya juga usaha, siapa tau harapan jadi kenyataan. Mari berdoa! :p

Di tengah deadline yang menghantui ini, gue sempet menyaksikan peristiwa yang menurut gue agak menampar diri gue sebagai mahasiswi Psikologi, S2 pulak. Isunya apa lagi kalau bukan cinta2an.

Jadi tersebutlah sepasang teman gue, who have been dating since almost 2 years ago. Mereka udah tinggal bareng dan mengadopsi 2 anjing yang lucu2. Suatu hari mereka putus. Eh, nggak ding, suatu hari they had a very big fight, kebetulan besoknya itu salah satu dari mereka ada kerjaan di luar kota. Berangkatlah dia, tapi sekalian kabur. Dan nggak pulang2 lagi. Tanpa pernah ada kata putus.

Si yang ditinggalkan ini pokoknya living a miserable life karena nggak ada kejelasan, jadi masih berharap bahwa suatu hari the runaway lover akan kembali. Nggak salah sih, namanya juga digantungin, walaupun yang pergi ini ngerasanya ini adalah final decision and they are totally broken. Ya mana gue tau juga sih mana yang bener, kan gue tidak ada di sana ketika kejadian. Hihihi..

Couple of months later, a big thing happened. Eh, dari tadi gak dikasih nama samaran ya? Okelah, mari kita sebut yang pergi adalah Dudul dan yang ditinggalin adalah Dodol. Ketika hal itu terjadi, Dodol nelepon Dudul dan minta dia untuk dateng dan nemenin dia since the thing happened is related to both of them pre-breakup. Dudul gak mau karena ngerasa udah gak ada apa2 lagi di antara mereka. The drama begins, people..

Paragraf2 berikut akan berisi analisis gue yang sok kepsikologi2an ya.😀

Dodol, yang ngerasa the relationship hasn’t over yet, berusaha supaya Dudul balik lagi sama dia. Karena Dudulnya bahkan gak mau ditemuin, Dodol melakukan beberapa hal nekat yang menurut gue pribadi menjurus ke arah kriminal. Tapi gue gak bisa menyalahkan dia 100%, Dodol was blind from love, the source of happiness and pain in everybody’s life. Dudul sendiri awalnya mati2an gak mau ketemu lagi sama Dodol, apalagi temenan. Gue rasa, yang ada di pikiran Dudul adalah pokoknya sekarang gue udah bahagia sama yang baru.

Gue paham sih apa yang dirasain Dudul, maybe Dudul has suffered enough from the relationship. Kesalahan Dudul cuma 1, gak secara gamblang menyatakan putus, this relationship is done, over, fin, tamat, khatam. Ini bikin Dodol jadi ngerasa digantungin dan menyimpan harapan bahwa one day Dudul will come back. Gak sehat untuk mereka berdua. Meskipun katakanlah penyebab putusnya mereka adalah Dodol, gak bisa juga Dudul kabur gitu aja alias flight kalau di psikologi, ceunah.

Sedih liatnya, tapi gue dan Mbee berusaha memediasi mereka berdua (ceritanya sih memanfaatkan ilmu yang dipelajari pas kuliah biar gak sia2 amat bayar SPP sekian semester. Hihi). Awalnya biasa lah yang keluar pasti emosi2 dulu. But after long hours of talking and meeting each other, gue bisa bilang bahwa sekarang masalahnya udah setengah terselesaikan. Dudul is doing quite fine, dan Dodol pelan2 memulai hidup yang baru tanpa Dudul. Happy ending? Not yet, but this is a new beginning for both of them.

Mbee sendiri bilang sama Dodol bahwa don’t make somebody the center of your happiness, because when s/he’s gone, there goes your happiness. Gue rasa dia rada2 curhat sih pas nasehatin Dodol. Hahahaha.. But Dodol got the point, dan setelah Dudul mulai ngebuka komunikasi dengan Dodol, both of them sounds more civilized now. I can see the tone of happiness from Dodol’s words ketika texting sama gue. Dudul pun lebih lega meskipun masih ada unfinished issues. Tapi Dudul belajar juga untuk overcome the fear and speak the unspoken words. They both learned something through the broken relationship. Mostly, they learned that LOVE, one they thought was a simple thing, could be something’s killing.

Jadi, para pembaca yang budiman dan budiwati, janganlah kau mencintai seseorang atau sesuatu terlalu dalam. Nanti kalau nggak ada bisa setres lho..😦

Note to self: jangan cinta2 amat sama tesis, nanti setres. Hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s