broken.

Yang broken bukan hubungan percintaan gue. He’s the one who keeps my sanity in place each day๐Ÿ™‚

Hari ini ada banyak hal yang terjadi. Melelahkan. Secara psikis. Sampai2 gue bbm manager gue di Holcim kemarin cuma buat curhat dan end up gue mewek sendiri. Gue lelah. Gue cuma ingin bahagia dan menikmati proses belajar. Gue masih muda *dan siapapun itu yang bilang 23 udah tua, sini gue selepet pake sarung* dan jalan hidup gue masih puanjang buanget. I’ll take the chance, no matter how thin it is, just to be happy and pursue my dreams.

Maybe some of you think it’s silly, talking about some stuff with your ex boss. Tapi gue malah merasa lebih nyaman dengan dia setelah gue udah gak jadi staff-nya lagi. Like there’s no more boundaries of organizational structure when I talk to her.

Lah. Jadi ngelantur.

Gue tadi mampir ke blognya salah satu teman kantor di Holcim. Tertohok baca tulisannya:

“Prinsip saya, karena hidup hanya sekali dan tidak tahu kapan akan berhenti, โ€œbahagiaโ€ menjadi prioritas utama saya. Saya ingin merasa bahagia tiap hari, termasuk di tempat kerja. Tentu saya tidak berpikir naif. Pasti ada hari yang mengesalkan di tempat kerja. Deadline yang semakin dekat, proyek-proyek yang menumpuk, meeting yang tidak bisa dihindari, dan lembar-lembar presentasi yang harus dikerjakan dengan indah. Tapi, pastinya, saya tahu overall feeling saya, apakah saya bahagia atau tidak.”

I don’t want to be a job-hopper. But I just want to be happy. Gue lagi mencari tahu gue ingin kerja di tempat seperti apa sebetulnya. Yang sudah jelas sih gue ingin bekerja di perusahaan yang orang2nya enjoy dan bekerja dari hatinya dengan FUN. Perusahaan yang menanamkan nilai kekeluargaan pada karyawannya, sehingga tanpa diikat oleh Ikatan Karyawan Anu dan Inu, karyawan bisa membangun ikatan emosional dengan perusahaan. Tanpa pamrih.

Gue masih belajar. Masih jadi balita di dunia kerja. Masih serba ngeraba2, mana pattern yang tepat buat gue. But don’t say I’m stupid or so. IPK di atas tiga walaupun tidak cumlaude yang diperoleh dari jungkir balik sungsang njempalik selama 4 tahun itu bukti bahwa I’m smart enough to get through those exams.

I honestly hate my career life right now. Dan parahnya, gue gak tahu bagian mana yang secara nyata bisa gue tunjuk sebagai: itu bagian yang gue benci!
Gue cuma bisa merutuki nasib sembari buka2 koran cari job vacancy. Sesuatu yang bahkan tidak pernah gue lakukan selama di Holcim.

Maaf ini postingan ngeluh. Tutup aja browser-nya kalau gak suka.
Eh. Telat ya ngomongnya?

Yah pokoknya begitu deh.
Gue harus berhenti ngomel2 nih. Akhir kata, percaya lah sama insting.๐Ÿ˜€

Udah woy. Tutup beneran sana browser-nya :p

Sent from Achie’s black gemstone.๐Ÿ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s