tentang mensyukuri hidup

Barusan, dalam perjalanan pulang, gue ngeliat seorang tukang becak. Beliau sudah cukup tua kelihatannya. Sekitar 55 tahun. Atau mungkin hidup yang membuatnya tampak lebih tua?

Di luar sedang hujan. Pak becak itu gak pakai jaket. Pun cuma pakai kaus tipis, celana pendek yang juga kelihatan tipis, dan sandal jepit. Satu2nya pelindung hujan cuma caping yang dilapis plastik, yang jelas2 juga tetap membuatnya basah jika hujan turun sedikit lebih deras.

Seketika gue merasa tertampar. Gue gak perlu mencari uang di jalan saat hujan. Gue bekerja di gedung bertingkat, ruang ber-AC, tiap hari bisa makan enak. Tapi gue masih mengeluh.

Gue masih mengeluh tentang hidup. Masih mengeluh tentang ini dan itu. Tuhan gak suka dengan sesuatu yang berlebihan. And I’ve watched people above me too much. Gue lupa untuk bersyukur.

Bahwa gue masih bisa makan 3x sehari. Bahwa gue masih bisa naik mobil ber-AC. Bahwa gue masih bisa merasa hangat dan nyaman di tengah hujan begini. Bahwa gue masih punya pekerjaan. Bahwa gue masih punya orang tua. Dan yang pasti, bahwa gue masih bisa memberi yang tidak semampu gue.

Oh well, terima kasih ya pak becak. Melalui anda, saya sudah diingatkan untuk banyak2 bersyukur. Bagaimanapun juga, gue cukup bahagia dengan apa yang gue miliki sekarang. Tidak berlebihan tapi juga tidak kekurangan. Alhamdulillah..🙂

Sent from Achie’s black gemstone.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s