id girl and life balancing

Kemarin gue dianalisis sama seseorang. She said that in Freud’s theory, most of the time, I belong to the ID category.

Kata Wikipedia: The id comprises the unorganized part of the personality structure that contains the basic drives. The id acts according to the “pleasure principle”, seeking to avoid pain or displeasure aroused by increases in instinctual tension.

*maafkan, gue terlalu malas buka2 text book kuliah yg segede bantal itu buat nyari definisi yang benar secara teori. :p*

Dipikir2 ada benarnya juga. Gue itu anaknya menganut pleasure principle banget. Kalo sesuatu terjadi dan membuat gue gak nyaman, I could impulsively do something, which sometimes put me in danger. Oh well, kalo udah begini biasanya Icha sama pacar gue yg garuk2 kepala puyeng. I’m their id girl. Lagi2 maafkan saya..😀

Tapi gak selamanya gue impulsively do something. Ada kalanya gue kebanyakan mikir sebelum melakukan sesuatu sehingga gue gak jalan2. Muteeeer aja di situ. Kalo lagi begini, kadang gue ngerasa di mana sih insting gue di saat dibutuhkan?? -_-”

Oh well, gue menyadari teramat sangat bahwa gue butuh penyeimbang bagi ke-id-an gue. Di luar keluarga, Icha dan pacar gue adalah orang2 yang sering memberikan brutal shots of truth buat gue dan menenangkan id yang suka mendadak brutal juga.

Yang namanya brutal shots of truth ya beneran brutal. Asli gak enak banget didengernya. Kadang pas denger gue suka pengen nampol *tuh kan id-nya nongol* Tapi lama2 bener juga sih apa yang mereka bilang. 2 orang ini seringnya ada di kutub yang berseberangan sama gue. Ibaratnya kayak gue nih api yg menyala2 dan mereka fire extinguisher-nya. Mereka bisa bikin gue tenang lagi. So, bisa dibilang mereka adalah penyeimbang hidup gue.

Icha sama pacar gue itu.. apa ya? Voices of superego buat gue. Kadang ada hal yang gak kepikiran sama gue karena lagi marah, mereka yang nenangin gue sampai gue bisa think straight lagi.

Nobody’s perfect, dan ada beberapa hal yang bisa bikin gue benci setengah mati sama mereka berdua sebenarnya. But again, maybe love has made me blind. I turned those negative things into: ya udahlah ya toh mereka nerima gue apa adanya kenapa gue gak mensyukuri keberadaan mereka yang membuat hidup gue balance?

Di saat gue lagi ngomel2, si pacar bisa tiba2 impulsif ngajak gue makan, atau nyodorin sesuatu yang bikin gue berhenti ngomel. Biasanya sih nyodorin jaket yang habis dia pakai. He knows how much I love his scent. Gak ada jaket? Diketekin deh gue -_-”
Atau Icha, biasanya bocah labil ini akan nunjukin muka2 lucu atau nunjukin apa kek yang bikin gue lupa sama marah gue. Atau ngajak makan. Atau mengiming2i gue dengan high heels. Oh well, dasar gue labil juga. Gampang bener kedistrak. Haha..

Life needs to be balanced, no matter you are dominantly id, ego, or superego. We definitely need someone to balance our life. I have found mine. Have you find yours?🙂

Happy sunday, everyone!😉

Sent from Achie’s black gemstone.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s