generation gap

Pagi tadi gue hampir ribut sama bapak gue. Perkaranya kecil banget, actually. Masalah bahasa anak muda masa kini. Itu lho, tulisan yang penuh angka dan tanda baca tak jelas yang berpotensi bikin migrain ketika dibaca..

Bapak gue gak paham kenapa mereka harus menulis seperti itu. Bahkan buat bapak gue, cara gue mengetik sms pun gak normal kayaknya karena ada kata2 yang suka gue singkat. Misalnya “kayaknya” jadi “kyknya”. But hey, anakmu ini sudah melewati masa alay-nya kok. Anyway, bapak gue aja yg terlalu konvensional, kalau gak mau dibilang jadul.

Yang menjadi topik ribut adalah gue merasa bahasa planet itu wajar walaupun gue sendiri gak paham maksud tulisan itu. Tapi gue merasa ya udahlah ya, memang begitu adanya. Kaidah bahasa yang baik dan benar gak berlaku untuk mereka. Nah bapak gue berharap gue memberikan penjelasan sesuai maunya dia. Padahal gue gak tau apa yang ada di pikiran dia bukan??

Sempat debat. Dua2nya keras dan kalau berlanjut bisa berakhir dengan gue packing terus cabut ke cijantung saat itu juga. Akhirnya emak gue turun tangan. Meminta gue untuk mengalah. Haish. Ya mengalah deh ujung2nya. But we’re not apologizing each other. Lol.

To make this story short, memang perlu ya pihak2 penengah ketika ada debat kenceng kayak gitu dalam keluarga. Especially ketika yang debat adalah 2 orang keras kepala yang gak mau ngalah dan merasa pendapatnya benar. Ya benar sih pendapat kami. But we forgot that there’s a generation gap between us. Pantes gak pernah akur. Zzz..

Sent from Achie’s black gemstone.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s