aktualisasi diri di gua-nya Plato

mau membenahi jurnal gue 2 taun yang lalu tentang Plato. jaman masih main multiply dulu, gue pernah nulis tentang Plato dan manusia gua-nya. jadi ceritanya ada sekelompok manusia yang ditaroh di gua, kudu ngadep dinding. di belakang mereka ada api unggun dan secuil cahaya matahari. otomatis yang mereka liat di dinding adalah bayangan2 efek api dan secuil cahaya itu. mereka jadi berimajinasi dan membentuk persepsi sendiri dong tentang dunia di luar. nah begitu keluar, TETOT! kenyataan beda sama persepsi mereka.

ini lho gambar gua-nya oom Plato..🙂

si gua itu=dunia kecil mereka, kehidupan di luar gua=dunia yang sebenarnya. apa bedanya dunia kecil dan dunia sebenarnya? dunia kecil adalah comfort zone kita. sebuah dunia yang kita bentuk dari rasa nyaman dan aman terhadap lingkungan di sekitar kita. sebuah dunia kecil yang membuat kita betah karena kita diterima dan menerima dengan ikhlas. tapi sebuah dunia yang berbahaya manakala kita gak mau keluar dari situ.

as some of us know, based on Maslow’s hierarchy of needs, puncaknya adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri. hal yang gak bisa dicapai tanpa memenuhi kebutuhan2 di bawahnya. melenceng dikit, kebutuhan paling bawah adalah kebutuhan fisiologis, kemudian kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan akan penghargaan diri, baru kebutuhan aktualisasi diri.

the main problem is, mana bisa kita melakukan aktualisasi diri kalo kita gak mau keluar dari dunia kecil kita yang nyaman itu? saat kita merasa aman dan nyaman dengan suatu kondisi, kita cenderung mau tetap di situ dan melakukan pemenuhan kebutuhan akan rasa aman. tapi akibatnya kita jadi manusia yang gak maju2. kita gak berani melakukan hal yang sebenarnya mampu kita lakukan hanya karena kita takut keluar dari dunia kecil kita.

contohnya, kita meniti karier di suatu perusahaan. dari karyawan, jadi manajer, terus direktur ini dan itu, sampai akhirnya mentok di satu posisi yang tinggi. mulailah kita membentuk dunia kecil kita di situ. terbuai sama segala fasilitas dan kemewahan sama kemudahan yang mengikuti suatu jabatan. kalo kita berani melangkah keluar dari dunia kecil kita, maka kita gak akan puas sampai di situ aja. kita akan berusaha gimana caranya kita bisa mengaktualisasi diri secara maksimal. entah dengan keluar dan bikin perusahaan sendiri, atau mungkin melakukan hal2 lain yang sekarang belom kepikiran ama gue.

nah kalo gak mau keluar gimana chie? ya macam post power syndrom gitu deh akhirnya. selesai jadi direktur, terus pensiun. gak bisa ngapa2in. mau bikin perusahaan sendiri udah ketuaan, mau kerja lagi udah tua juga. terhambat ini dan itu akhirnya gak bisa mengaktualisasi diri. hari tua yang tidak menyenangkan. kalo kata Erikson ini masuknya stagnation, instead of generativity. ujung2nya ya, malah despair, bukannya meraih integrity. nanti deh gue cerita si Erikson di 1 jurnal sendiri. hehe..

gue ngomong gini buat meng-encourage diri gue sendiri kok, bukan berarti gue udah memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. gue masih belajar, dan karena gue tau sedikit tentang ini makanya gue share, siapa tau ada yang terinspirasi dan bisa melangkah lebih jauh lagi dari dunia kecilnya untuk meraih kepuasan diri sendiri🙂

ets, tapi bukan berarti dunia kecilnya harus bener2 ditinggal lho. dunia kecil itu diperlukan, terutama saat dunia nyata lagi kejam2nya. we do need someone who loves us unconditionally. just keep both of our world balance, like yin and yang😀

2 thoughts on “aktualisasi diri di gua-nya Plato

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s